Presiden Jokowi: Butuh Peran Kagama untuk Wujudkan Indonesia Maju

165
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi hadir sebagai Kagama sekaligus mewakili Presiden RI Joko Widodo membuka Munas XIII Kagama. Foto : Maulana/KAGAMA
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi hadir sebagai Kagama sekaligus mewakili Presiden RI Joko Widodo membuka Munas XIII Kagama. Foto : Maulana/KAGAMA

KAGAMA.CO, DENPASAR – Presiden RI Joko Widodo menyampaikan penghargaan kepada seluruh peserta yang hadir di Munas XIII Kagama dan “Yang pasti Jokowi tetap Kagama.”

Hal ini dibacakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, mewakili Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Munas XIII Kagama di Hotel Grand Inna Bali Beach, Denpasar, Bali, Jumat (15/11/2019).

Presiden berhalangan hadir sebab di waktu yang sama meresmikan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung, Lampung, Sumatera Selatan.

Budi melanjutkan, pada 18 Desember 2019, Kagama berusia 61 tahun, punya perjalanan panjang sebagai organisasi alumni.

Kagama tersebar dari seluruh penjuru tanah air hingga ke luar negeri.

Selain itu, Kagama juga beragam dari segi suku, agama, budaya, profesi, dan bahasa.

Kagama di mana pun berada selalu menanamkan nilai-nilai yang mereka dapatkan ketika masih kuliah di UGM.

“UGM memiliki jati diri sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, universitas yang ingin memegang teguh nilai-nilai pancasila. Universitas kebudayaan dan universitas kerakyatan,” kata Budi.

Baca juga: Ganjar Pranowo Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum PP Kagama Periode 2019-2024

Nilai-nilai yang ditanamkan UGM kata Budi, membuat kita erat, guyub, dan rukun sebagai keluarga. Itu sebabnya, Kagama memiliki keikhlasan dibandingkan lainnya, karena namanya dimulai dari kata Keluarga.

Selain itu, dalam Kagama juga ditanamkan nilai kebangsaan, sehingga kita saling menjaga, membangun toleransi, menjadi simpul kesatuan, dan mengulurkan tangan solidaritas dalam rumah besar Indonesia.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah nilai-nilai kerakyatan. Hal itu menegaskan komitmen Kagama untuk mengakar, berpihak pada kepentingan rakyat.

“Nilai-nilai ini adalah jiwa Kagama dan roh Kagama, dan juga sebagai jati diri Kagama.”

“Seperti yang pernah disampaikan Pak Ganjar, Kagama kalau bertemu pasti ramai sekali, guyib, rukun, dan gayeng.

“Tapi, saya katakan jangan hanya sekadar itu, harus migunani,” tutur Budi.

Dia menilai, migunani tersebut diterapkan dalam lingkup yang lebih kecil hingga ke lingkup yang lebih besar yaitu, negara.