KAGAMA.CO, SLEMAN – Pemerintah perlu mempersiapkan langkah–langkah untuk menghadapi disrupsi yang berasal dari perkembangan teknologi revolusioner era Revolusi Industri 4.0. berikut dampaknya, seperti kemiskinan, job lost, maupun ketimpangan. Kehadiran pemerintah dibutuhkan untuk melindungi rakyat.

Menteri Sekretaris Negara Prof. Dr. Pratikno, M. Soc., Sc. menyampaikan hal itu dalam Pidato Kebangsaan di Sanggar Maos Tradisi, Sabtu (27/1/2018) malam. Pratikno mengajak pemerintah dan masyarakat mempersiapkan diri menghadapi permasalahan dasar kesejahteraan serta menghadapi kompetisi perkembangan di level global.

Keprihatinan mantan Rektor UGM ke-14 ini terhadap keadaan masyarakat bawah, berangkat dari ingatan masa kecilnya saat masih tinggal di desa. Situasi yang sangat disayangkan, yakni hilangnya kekayaan alam dari desanya  kini yang sangat berbeda dibandingkan masa kanak-kanaknya.

“Sejalan dengan hancurnya petani tembakau di tengah–tengah bangkitnya industri rokok. Mengapa ketika industri rokok berkembang begitu luar biasa yang dihasilkan oleh kelompok konglomerat di  saat yang sama hancurnya petani tembakau di kampung saya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merupakan teka–teki yang sulit dijawab Pratikno yang kemudian mendorongnya untuk menulis buku yang mengisahkan kehidupan masa kecil yang diandaikan berjudul The Political Economy of Javanese Village yang berfokus pada ekonomi politik pedesaan.

Pidato Kebangsaan yang disampaikan Pratikno menjadi penutup perayaan satu tahun tradisi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Sanggar Maos Tradisi yang dimotori sosiolog UGM Dr. Arie Sujito, M. Si. Berbagai acara menandai peringatan satu tahunnya lembaga tersebut sejak Rabu (24/1/2018) hingga Sabtu (27/01/2018) di Sanggar Maos Tradisi, Donoharjo, Sleman. Turut hadir pula, antara lain pengamat ekonomi Faisal Basri, sejumlah dosen FISIPOL UGM, alumnus UGM, dan tokoh lainnya. [Angelina Sandi]