Praktisi Tulen Bandar Udara

18
Direktur Teknik dan Operasi PT AP II Djoko Murjatmodjo merupakan seorang praktisi tulen di dunia bandar udara karena telah menggeluti seluk beluk bandara sejak masih menjadi mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada hingga kini menjadi pejabat di PT AP II. Foto : Fajar/KAGAMA
Direktur Teknik dan Operasi PT AP II Djoko Murjatmodjo merupakan seorang praktisi tulen di dunia bandar udara karena telah menggeluti seluk beluk bandara sejak masih menjadi mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada hingga kini menjadi pejabat di PT AP II. Foto : Fajar/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – PT Angkasa Pura  (AP) II (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diserahi tugas mengelola 14 bandar udara di Tanah Air.

Bandar udara (Bandara) adalah kawasan di daratan dan atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.

Guna memastikan tujuan ideal itu tercapai maka tanggung jawab itu berada di pundak Direktur Teknik dan Operasi PT AP II Djoko Murjatmodjo.

Dia merupakan seorang praktisi tulen di dunia bandar udara karena telah menggeluti seluk beluk bandara sejak masih menjadi mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada hingga kini menjadi pejabat di PT AP II.

“Saya khatam untuk segala urusan bandara, termasuk seluk-beluk perusahaan penerbangan,” ujar Djoko ketika ditemui KAGAMA di Jakarta belum lama ini.

Perjalanan kariernya moncer seiring dengan prestasi kerjanya.

Ia pernah menjadi pejabat di beberapa posisi strategis, antara lain Kasubdit Pengembangan dan Pembinaan Usaha Angkutan Udara, Direktorat Jendral Perhubungan Udara (2002-2012), Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (2012-2014), dan Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (2014- 2015).

Djoko pun sempat ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perhubungan Udara.

Kala dia menjabat Plt Dirjen Perhubungan Udara, terjadi peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 pada Desember 2014.

Pesawat dengan muatan 155 penumpang itu diperkirakan jatuh di perairan Tanjung Pandan dan Pontianak.

Dalam perjalanan pulang dari Pangkalan Bun selepas meninjau lokasi kecelakaan pesawat, dia ditugasi oleh Ignasius Jonan (Menteri Perhubungan kala itu) untuk masuk ke jajaran Direksi PT Angkasa Pura II.

Setelah melewati proses fit and proper test, Djoko ditunjuk menjadi Direktur Teknik dan Operasi PT AP II pada Januari 2015.

Aktivitas dan jadwal kerja yang padat sehingga hampir tak ada hari libur untuknya.

Bahkan di hari Sabtu dan Minggu, dia mesti bekerja karena ada tugas yang mendesak.

Hal ini pula yang membuatnya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

“Apalagi dulu, sebelum Bapak Presiden Joko Widodo memakai pesawat khusus kepresidenan, beliau kerap pergi dengan pesawat komersial biasa.”

“Walau pun hari Sabtu dan Minggu, saya mesti siap sedia bila sewaktu-waktu dapat panggilan,” kisahnya.

“Meski sedang ke mal bersama keluarga, saya tak berani memakai celana santai.”

“Saya sudah pakai celana kerja dan mobil yang sudah siap sedia berangkat.”

“Saya pun berganti baju di mobil, biasanya, Paspampres memberitahukan jadwal Presiden satu jam sebelum keberangkatan,” ungkap Djoko.

Setelah Presiden menggunakan pesawat khusus kepresidenan, jajaran direksi membuat piket terjadwal dua harian untuk mengikuti agenda Kepala Negara.

“Setelah dibuat jadwal piket tugas saya jadi lebih ringan,” ucapnya.

Kini pria kelahiran Yogyakarta ini sudah memasuki tahun keempat sebagai Direktur Teknik dan Operasi AP II.

“Saya tidak tahu apakah di tahun kelima ini masih diberi amanah atau tidak.”

“Pasalnya, jabatan ini tak ada pensiun, semua tergantung pada Rapat Umum Pemegang Saham,” pungkas Djoko. (Jos)