Petani dan Ilmuwan Perlu Gunakan Paradigma Pertanian Baru Demi Ketahanan Pangan

53
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Edhi Martono menjelaskan tentang Produksi Hayati Pintar Ramah Lingkungan (SiPINTAR) atau Smart Eco Bioproduction untuk tangani masalah pertanian. Foto: Ist
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Edhi Martono menjelaskan tentang Produksi Hayati Pintar Ramah Lingkungan (SiPINTAR) atau Smart Eco Bioproduction untuk tangani masalah pertanian. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Beberapa metode maupun alat bantu dari luar tanaman mampu memproduksi hasil pertanian dengan cepat.

Namun, ternyata alat-alat tersebut membawa akibat samping yang dapat mempengaruhi kualitas hasil pertanian.

Prof. Edhi Martono, M.Sc, Ph.D, mengatakan, produksi pertanian justru menjadi tidak ramah lingkungan.

“Akibat samping tersebut, misalnya penyakit yang muncul pada konsumen, merusak media yang digunakan untuk menanam, atau menyebabkan hilangnya imunitas tanaman, sehingga lebih mudah terserang hama,” ujar dosen Departemen Hama dan Penyakit Tanaman UGM ini.

Mengutip sebuah data, Edhi mengungkapkan, populasi manusia pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9,1 Miliar manusia

Baca juga: Hadapi Tantangan Besar, Perusahaan Asuransi Jiwa Harus Lakukan Ini di Masa Pandemi

Menurutnya, ini merupakan tantangan tersendiri, karena artinya pangan yang disediakan jumlahnya harus lebih besar 70 persen di atas jumlah pangan yang tersedia saat ini.

Untuk itu, tiba saatnya kita mulai gunakan Produksi Hayati Pintar Ramah Lingkungan (SiPINTAR) atau Smart Eco Bioproduction untuk tangani masalah pertanian.

Penggambaraan SiPINTAR ini Edhi paparkan dalam acara Bincang Desa bertajuk Implementasi Ecosystem Services dalam Sistem Pertanian, yang digelar pada Sabtu (12/9/2020) oleh Desa Apps, Fakultas Pertanian UGM secara daring.

Meskipun produksi kebutuhan manusia tinggi, kata Edhi, jangan sampai produksi alaminya ditinggalkan.

Suatu usaha tani yang produksinya tinggi harus harmonis dengan kegiatan mediasi penyakit yang menginfeksi tanaman, forest production, dan sebagainya.

Baca juga: Begini Strategi Myland untuk Selamatkan Jasa Raharja dari Krisis