KAGAMA,CO, BULAKSUMUR – Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral (Pusat P2K-Multilateral), Kementerian Luar Negeri RI selaku anggota Tim Koordinasi Nasional Kerja Sama Selatan-Selatan (Tim Kornas KSS) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM menggelar seminar  bertema “Strengthening Indonesia’s Leadership through South-South and Triangular Cooperation (SSTC)”, Rabu (28/2/2018) di Mandiri Digital Library, FISIPOL UGM.

Seminar tersebut merupakan salah satu rangkaian program untuk mensosialisasikan capaian KSS Indonesia serta menyuarakan kiprah dan kontribusi Indonesia dalam memberikan bantuan kapasitas bagi sesama negara berkembang sekaligus kontribusi Indonesia pada pengembangan ekonomi dan pelibatan sektor bisnis nasional.

Seminar dibuka oleh Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro dan menghadirkan 4 panelis, yakni Fikry Cassidy selaku Kepala Pusat P2K Multilateral Kemlu; Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, M.P.P.,M.Sc. selaku Wakil Dekan II Bidang Kerjasama, Alumni dan Penelitian; Hendro Widjayanto selaku President Director CV. Karya Hidup Sentosa atau Quick Tractor Indonesia dan Prof. Dr. Gati Gayatri, MA. Selaku Plt Ketua Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC”.

Menariknya, seminar ini mengundang Executive Producers and News Anchor SCTV, Mochammad Achir sebagai moderator. Hadir pula Duta Besar Indonesia untuk Rumania, Diar Nurbiantoro serta Yahya Luping selaku perwakilan dari United State Agency for International Development Indonesia (USAID Indonesia).

Pengelolaan KSS selanjutnya diperkuat lagi dan diarahkan kepada kebijakan satu pintu (one gate policy) di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri sebagai penyuluh. Kerja Sama Selatan Selatan ini dimaksudkan agar pelaksanaan KSS bersinergi dengan arah Politik Luar Negeri,” ungkap Direktur Kerja Sama Teknik, Kemlu sekaligus Ketua Tim Pelaksana Kornas KSS, Muhammad Syarif Alatas. Kaitannya dengan arti penting dari rja Sama Selatan Selatan (KSS) sendiri bagi Indonesia yakni tidak terlepas dari nilai – nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan Renstra Menlu dimana sesuai dengan prinsipnya yakni mutual act, kesetaraan, mutual benefit, dan kepetingan bersama. Tak hanya itu, kehadiran KSS menjadi sebuah bentuk kontribusi alternatif dari hubungan utara-selatan serta berkontribusi bagi perusahaan domestik. Indonesia berangsur berperan aktif memberikan bantuan bagi negara – negara berkembang lainnya, khususnya dalam bidang pembangunan.

Seminar ini turut dihadiri oleh berbagai kalangan, baik dari akademisi, mahasiswa, perusahaan swasta, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, dan sebagainya. Selain itu, tidak hanya diisi dengan materi saja, namun terdapat himbauan untuk mengupload kegiatan yang berlangsung dan dishare melalui twitter dan Instagram. Tujuannya selain untuk menyebarkan informasi mengenai isi dari seminar ini juga sebagai langkah untuk memperluas kesadaran masyarakat akan peran penting Indonesia dalam kancah pembangunan global. Dan di akhir acara diumumkan pemenang yang membuat caption paling menarik dan likers atau retweet terbanyak.

Highlight terakhir dari Hendra Wijayanto sebagai representasi pelaku usaha memberikan keyakinan besar terhadap skema kerjasama ini. “Semakin tinggi teknologi semakian tinggi pula biaya yang dibutuhkan. Maka negara ketiga lebih prefer belajar ke Indonesia dibanding ke Jepang, misalnya,” ungkapnya.

Alumni Jurusan Akuntansi UGM ini juga berujar bahwa Indonesia menjadi tempat belajar yang lebih menguntungkan dimana gap teknologi dan biaya tidak jauh berbeda dan merupakan yang terupdate. Di akhir acara, dosen HI UGM, Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, M.P.P.,M.Sc., merangkum seminar dimana menekankan pada dua poin penting yang menjadi perhatian utama. Pertama, karakter Indonesia sebagai negara berkembang yang mewarnai kontestasi global. Dan, pentingnya dukungan politik domestik untuk menyukseskan kerja sama ini. [Angelina Sandi]