5. Ngontel atau Ngompreng

Di tahun 50-an tentu sangat jarang dijumpai kendaraan bermotor. Mahasiswa kala itu untuk berkuliah kebanyakan berjalan kali atau bersepeda. Paling banter agar tak capek saat ke kampus, banyak mahasiswa yang ikut menumpang kendaraan kantor dinas-dinas di sekitar kampus, istilah akrabnya “ngompreng”.

Terkadang beberapa proyek pembangunan memaksa para mahasiswa untuk menempuh jalan yang lebih panjang untuk ke kampus. Bambang Suhendro pernah punya pengalaman soal itu.

Ia berkisah pernah di awal tahun 60-an jembatan Gondolayu yang jadi akses tercepat ke kampusnya di Jetis sedang diperbaiki. Walhasil ia yang bermukim di Sagan harus bersepeda lebih jauh, yakni lewat Kewek. Keadaan tersebut ia alami bertahun-tahun seiring perbaikan jembatan.[Fajrin]