Perjalanan Hidup Bambang Purwoko dan Dedikasinya Membangun Pendidikan di Papua

597
Pada 1997 pertama kalinya Bambang Purwoko ke Sorong dan Jayapura dalam rangka penelitian proyek percontohan pelaksanaan otonomi daerah (otda). Selanjutnya, dia membentuk Gugus Tugas Papua (GTP) yang hingga saat ini telah mengirim ratusan guru untuk membangun pendidikan di Papua. Foto: PPKK UGM
Pada 1997 pertama kalinya Bambang Purwoko ke Sorong dan Jayapura dalam rangka penelitian proyek percontohan pelaksanaan otonomi daerah (otda). Selanjutnya, dia membentuk Gugus Tugas Papua (GTP) yang hingga saat ini telah mengirim ratusan guru untuk membangun pendidikan di Papua. Foto: PPKK UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Jogja menjadi kota yang dicita-citakan banyak anak muda sebagai tempat menuntut ilmu, Drs. Bambang Purwoko, MA (58) merupakan satu di antaranya.

Sebelum lulus SMA, Bambang sudah memberanikan diri berkunjung ke Jogja dengan mengendarai sepeda motor bersama kawannya.

Di kota pelajar ini dirinya mengikuti bimbingan belajar gratis dan bertekad kuliah di UGM atau IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).

“Mengapa IKIP? Karena dari awal Saya bercita-cita jadi guru. Orang tua dan simbah guru semua. Dulu lulus SMP sudah ingin masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Tapi, orang tua menyarankan sekolah di SMA dulu, baru kuliah di IKIP,” ujar Bambang saat ditemui KAGAMA, belum lama ini.

Bambang Purwoko saat kunjungan ke Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua dalam misi pendidikan Gugus Tugas Papua UGM. Foto: Bambang
Bambang Purwoko saat kunjungan ke Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua dalam misi pendidikan Gugus Tugas Papua UGM. Foto: Bambang

Baca juga: Soal Kerusuhan Papua, Gugus Tugas Papua UGM Rekomendasikan Enam Hal Ini

Aktif Berorganisasi Meskipun Kuliah Dobel

Begitu diterima di Jurusan Pendidikan Fisika IKIP pada 1980, dirinya semakin yakin bahwa menjadi guru sungguh menyenangkan.

Namun, di saat yang sama Bambang mulai memiliki ketertarikan di bidang pemerintahan.

Dia kemudian mengikuti bimbingan belajar lagi, dan diterimalah Bambang di jurusan Ilmu Pemerintahan UGM pada tahun 1981.

Pria asal Purwokerto, Jawa Tengah itu merasa senang, tetapi tidak bagi orang tuanya.

Bambang kemudian bernegosiasi dengan orang tua dan akhirnya memutuskan untuk kuliah di dua jurusan.

Baca juga: KAGAMA Membangun Papua Sejak 1982