Peran Taman Siswa sebagai Cucuk Lampah Pendidikan Nasional

354
Pendidikan itu Tut Wuri Handayani. Siswa sebagai jiwa yang merdeka harus tumbuh semerdeka mungkin. Foto: Taman Siswa
Pendidikan itu Tut Wuri Handayani. Siswa sebagai jiwa yang merdeka harus tumbuh semerdeka mungkin. Foto: Taman Siswa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara (KHD) semakin ditinggalkan, bahkan pendidikan di Perguruan Taman Siswa kini dianggap terpinggirkan.

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Sc mengutarakan bahwa menjelang usia ke-100, Taman Siswa bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali ajaran luhur KHD bagi pendidikan nasional.

Sebenarnya ajaran luhur KHD merupakan nilai-nilai universal yang menyebutkan bahwa pendidikan sejatinya memanusiakan manusia.

Diceritakan oleh Agus, KHD banyak belajar dari beberapa tokoh dunia seperti Rudolf Steiner, M Montessori, F Fröbel, ÉJ Dalcroze, dan Rabindranath Tagore.

Baca juga: Dirikan Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara Belajar dari Sultan Agung

Cerita sejarah tentang KHD yang terinspirasi dari tokoh-tokoh dunia itu juga datang dari Ki Priyo Dwiyarso (72) dari Majelis Luhur Tamansiswa.

Dikisahkan oleh Priyo, KHD beruntung sekali dibuang ke Belanda pada 1913.

Saat itu ada reformasi pendidikan oleh seorang reformis pendidikan dari Austria.

“Reformasi pendidikan saat itu mirip dengan ideologi Taman Siswa. Pendidikan itu Tut Wuri Handayani. Siswa sebagai jiwa yang merdeka harus tumbuh semerdeka mungkin,” ungkap Priyo.

Baca juga: Berikut Rekomendasi Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) untuk Pendidikan Genarasi Emas

Di Taman Siswa, lanjutnya, para pamong membiarkan siswa tumbuh dengan alami sesuai kodratnya.

Istilahnya menyirami dan memupuk saja.

Setelah didapuk sebagai pendidik bangsa, KHD pulang ke Indonesia dan mendirikan Taman Siswa pada 1922.

Lima tahun berdiri, banyak orang mengakui kehebatan Taman Siswa, termasuk Tagore.

Banyak belajar dari falsafah-falsafah KHD, sastrawan asal India itu kemudian mendirikan sekolah bernama Shantiniketan.

[Baca selengkapnya di Majalah Kagama Edisi Nomor 30]