Peraih Beasiswa PPA Ini Jadi Lulusan Tersingkat

153
Beberapa kali ketika Nadya sangat stres, ia menghubungi ibunya untuk mengungkapkan kepenatan di perkuliahan dan dalam hidupnya. Foto: Istimewa
Beberapa kali ketika Nadya sangat stres, ia menghubungi ibunya untuk mengungkapkan kepenatan di perkuliahan dan dalam hidupnya. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Nadya Imerelda Tambunan, S.I.P menjadi lulusan tersingkat untuk Wisuda Program Sarjana dan Diploma IV Tahun Akademik 2018/2019, pada Kamis (22/8/2019) di GSP UGM.

Masa studi rata-rata wisudawan UGM program sarjana adalah 4 tahun 3 bulan, sedangkan Nadya mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 3 bulan 26 hari.

Nadya merupakan lulusan Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL angkatan 2015.

Akan tetapi setelah sadar bahwa dara kelahiran 20 Agustus 1997 ini merupakan wisudawati tersingkat di tingkat universitas, Nadya mengaku terkejut.

Baca juga: Orang-orang Muda ini ke Jogja Cari Ilmu untuk Bangun Papua

Sebagai lulusan tersingkat, Nadya merasa tidak berbeda dengan teman-temannya saat kuliah.

Sama seperti mahasiswa lainnya, ia mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti kepanitiaan di jurusan dan fakultas, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas.

Manajemen waktu dan skala prioritas selalu menjadi pegangan dara asal Medan ini.

Selain itu, Nadya juga sealu mendapat dukungan moril dari keluarga.

Nadya merupakan lulusan Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL angkatan 2015. Foto: Istimewa
Nadya merupakan lulusan Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL angkatan 2015. Foto: Istimewa

Baca juga: Masyarakat Perlu Terlibat dalam Kegiatan Literasi Digital

“Keluarga sangat berperan, khususnya Ibu Saya. Beberapa kali ketika Saya sangat stres, Saya menghubungi Ibu untuk mengungkapkan kepenatan Saya di perkuliahan dan dalam hidup,” ujarnya kepada KAGAMA, usai wisuda.

Setiap kali berkeluh kesah dengan Ibunya, Nadya selalu merasa tenang dan mendapatkan kembali energi positif.

Penerima beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) selama tiga tahun berturut-turut ini memiliki prinsip hidup untuk saling membantu dan mengasihi sesama manusia, seperti halnya mengasihi diri sendiri.

Selama kuliah, Nadya juga mendapatkan beasiswa JASSO ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang.

Baca juga: Soal Ekonomi Digital, Indonesia Perlu Buat Regulasi Khusus

Ditanya tentang kenangan selama masa kuliah, wisudawan peraih IPK 3,84 ini mengaku sangat terkesan dengan cerita semasa KKN.

“Ketika KKN saya tidak hanya harus mengaplikasikan ilmu yang Saya pelajari selama kuliah di kehidupan masyarakat sehari-hari, tetapi juga belajar banyak dari teman-teman KKN dan juga dari masyarakat sekitar,” kata peraih IPK 3,65 itu.

Belajar dari pengalaman tersebut, ia ingin bekerja terlebih dahulu setelah kelulusan ini hingga menemukan minat studi yang pas.

“Saya ingin menggali terlebih dahulu apa yang menjadi minat studi Saya, sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi,” tandasnya. (Sirajuddin)

Baca juga: Solusi untuk Pendidikan Vokasional di Indonesia