Penyebab Kebakaran Hutan di Indonesia dan Solusinya

98

Baca juga: Solusi Yuridis untuk Mengatasi Kebakaran Hutan

“Lahan gambut kalau dikeringkan itu jadi sumbu. Kekeringan pada lahan gambut rentan berpotensi menimbulkan kebakaran. Api akan cepat sekali menyebar. Di gambut api tidak hanya menyebar di dalam, tetapi juga menyebar ke luar yang kemudian membakar pohon dan kombinasi berbagai tipe kebakaran,” tandas Fiqri.

Perubahan Iklim

Kerhutla sejatinya juga tidak terlepas dari adanya perubahan iklim.

Kebakaran hutan, kata Fiqri, hampir terjadi setiap tahun dan membentuk kecenderungan musim.

Kondisi-kondisi tertentu seperti El Nino dan La Nina sangat menentukan kerentanan karhutla.

“Musim kemarau panjang menyebabkan lahan semakin kering, lalu rentan terbakar. Padahal untuk lahan gambut yang seharusnya terjaga agar tergenang air, kemudian dibuat kanal untuk jadi kering itu sudah rentan. Sedangkan gambut jika sudah kering akan kehilangan daya serap air,” ungkapnya.

Baca juga: Sumbangsih KAGAMA Wujudkan Reformasi 1998

Sebetulnya keberadaan gambut yang memiliki fungsi penyimpanan air, bisa mengurangi potensi kebakaran hutan.

Fiqri menjelaskan, jika dulu musim berganti setiap enam bulan, berarti masyarakat perlu siap siaga untuk enam bulan ke depan setelah musim hujan berakhir.

Namun, karena sekarang musim kemarau sangat panjang, maka kerentanan kebakaran itu makin tinggi pula.

Berangkat dari Segitiga Api

Secara teoritis, proses terjadinya kebakaran hutan berangkat dari segitiga api yang terdiri dari keberadaan oksigen, bahan bakar, dan sumber api.

“Kalau kemarau panjang, bahan bakarnya kering, maka akan rentan. Kemudian sumber api, ini datangnya bisa dari manusia. Baik dilakukan secara personal maupun korporasi, kebakaran dipicu oleh adanya sumber api secara sengaja maupun tidak sengaja pada kondisi lingkungan yang rentan,” jelas dosen yang menyelasaikan studi S2-nya di Prodi Ilmu Lingkungan UGM itu.

Baca juga: UGM Wujudkan Mimpi Desa Terpencil Sulawesi Tengah Nikmati Listrik