Penyandang Disabilitas Jangan Takut Bermimpi Masuk UGM!

145
Pintu masuk UGM terbuka bagi calon mahasiswa disabilitas. Foto: Humas UGM
Pintu masuk UGM terbuka bagi calon mahasiswa disabilitas. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bincang-bincang dengan mahasiswa disabilitas menjadi salah satu acara dalam agenda Faculty Fair UGM pada 30-1 Desember 2019 di Grha Sabha Pramana (GSP).

Acara bincang-bincang yang berjudul “UGM Menuju Kampus Inklusi” tersebut menghadirkan tim Pokja Peduli UGM yang baru terbentuk.

Melalui bincang-bincang ini, UGM menyatakan komitmennya untuk menjadi kampus inklusi yang ramah terhadap penyandang disabilitas.

Selain itu, tim Pokja Peduli Difabel UGM juga semakin dikenal publik dengan adanya talkshow ini. Hal itu seperti disampaikan Wuri Handayani, SE., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., selaku ketua tim Pokja.

“Tim ini (Pokja) lahir atas inisiasi dari mahasiswa yang tergabung dalam UKM Peduli Difabel yang terlebih dahulu ada (2013),” kata Wuri berkisah.

Baca juga: Alumnus UGM dan 12 Staf Kepresidenan Temui Jokowi Rancang Indonesia Maju

“Mereka kemudian mengajak dari pihak stakeholder UGM, termasuk saya, untuk menjalin komitmen lebih serius dalam memperbaiki pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Dengan demikian, dibentuklah Tim Pokja ini,” ucapnya lagi.

Wuri menjelaskan, kini tugas Pokja Peduli Difabel UGM adalah menginisiasi terbentuknya unit atau pusat layanan difabel.

Hal tersebut, lanjut dia, untuk merealisasikan komitmen UGM sebagai kampus Inklusi pada 2020 mendatang.

Pembentukan tersebut sekaligus juga untuk memenuhi amanat UU Republik Indonesia No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas ada Pasal 43 dan 44.

“Intinya, kurang lebih penyelenggara pendidikan wajib menyediakan akomodasi yang layak untuk peserta didik penyandang disabilitas serta wajib pula memasukkan mata kuliah tentang pendidikan inklusif dalam kurikulumnya,” terang dosen FEB UGM yang berasal dari Kediri ini.

Baca juga: UKM Peduli Difabel UGM Gelar Kegiatan Menanam Pohon di Hutan Wanagama