Penggunaan APD Secara Bijaksana, Salah Satu Upaya dalam Penanganan Kasus Covid-19

1615
Praktisi rumah sakit alumnus Farmasi UGM, Dr. apt. Endang Yuniarti, M.Kes, menyatakan ada alat pelindung diri (APD) yang sebetulnya tidak diperlukan tenaga medis dalam penanganan wabah corona. Foto: FK-KMK UGM
Praktisi rumah sakit alumnus Farmasi UGM, Dr. apt. Endang Yuniarti, M.Kes, menyatakan ada alat pelindung diri (APD) yang sebetulnya tidak diperlukan tenaga medis dalam penanganan wabah corona. Foto: FK-KMK UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Salah satu problem yang dihadapi tenaga medis Covid-19 adalah keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD).

Keterbatasan APD terjadi mengingat kasus Covid-19 menjadi pandemi global. Sementara di Indonesia, kasus konfirmasi positif masih terus bertambah.

Belum ada yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Adanya fenomena panic buying di masyarakat membuat ketersediaan APD di pasaran menjadi langka.

Padahal, APD adalah perlengkapan penting guna melindungi tenaga medis dan paramedis dalam merawat pasien Covid-19.

Imbas dari langkanya APD pun tidak main-main. Satu per satu tenaga medis dan paramedis gugur karena terpapar virus.

Alumnus Fakultas Farmasi UGM angkatan 1988, Dr. apt. Endang Yuniarti, M.Kes, menyebut ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kelangkaan APD.

Baca juga: Luthfi Ingin Ukesma Bermanfaat bagi Dunia Kerja Mahasiswa di Masa Depan

Pertama, peningkatan kebutuhan yang tak pernah diduga sebelumnya. Kedua, suplai tak memadai lantaran kekurangan bahan baku. Ketiga, kapasitas produksi, konsolidasi industri, praktik pemasaran, dan manajemen rantai pasok.

Ketersediaan APD yang semakin langka menyebabkan APD yang dijual di pasaran harganya melambung.

Akibatnya, sang garda terdepan penanganan Covid-19 terpaksa berhemat. Bahkan, mereka menggunakan APD yang tidak sesuai standar.

“Masker bedah dan masker N95 merupakan contoh APD yang harganya melonjak hingga 700%,” tutur Endang belum lama ini.

“Pada beberapa kasus, rumah sakit terpaksa menggunakan jas hujan atau mantel sebagai pengganti gown (jubah gaun) pada saat memberikan pelayanan kepada pasien,” jelas wanita kelahiran 24 Juni 1970 ini.

Kata Endang, upaya untuk menghindari dan mengurangi risiko kekurangan APD telah banyak dilakukan baik di tingkat nasional maupun regional.

Seperti dengan melibatkan industri rumah tangga untuk memproduksi APD.

Berbagai elemen masyarakat pun secara sukarela melakukan penggalangan dana untuk menyumbang APD kepada tenaga medis.

Hanya saja, Endang menemukan fakta menarik mengenai APD yang lazim digunakan dalam penanganan corona.

APD yang dimaksud adalah baju hazmat bertipe coverall. Coverall dicirikan dengan baju terusan yang hanya terbuka di area muka, telapak tangan dan di bawah mata kaki.

Baca juga: Alumnus FISIPOL UGM Banyak yang Jadi Menteri, Ini Alasannya