Pengelolaan Arsip Makin Canggih, Warni Ingin UGM Jangan Lupakan Cara Konvensional

235

Baca juga: Laboratorium-Laboratorium Tertua di UGM

Menurut Warni, hal tersebut menjadi tantangan UGM untuk terus bisa ‘mengekspos diri’.

Bagaimana caranya agar kiprah UGM tetap terdengar di tengah jumlah media yang semakin meningkat.

“Media sekarang tidak cetak saja, tetapi ada media sosial. Kebiasaan masyarakat juga bergeser, makin jarang yang baca koran, lebih suka media sosial,” ungkap Warni.

Setiap zaman menghadapi persoalan yang berbeda, untuk itu bagi Warni yang terpenting adalah pandai-pandai menyiasati.

Teknologi semakin berkembang, tetapi jangan lantas meninggalkan cara-cara konvensional.

UGM Baiknya Fokus pada Potensi yang Dimiliki

Internasionalisasi, kata Warni, sering diidentikan dengan meniru kegiatan bangsa asing.

Menurutnya internasionalisasi artinya masyarakat melakukan sesuatu yang berbeda dari lainnya, sehingga bisa menjadi role model bagi bangsa lain di dunia internasional.

Hal ini Warni kaitkan juga dengan keunggulan UGM di suatu bidang.

UGM sebetulnya unggul dalam berbagai hal, contohnya obat alam atau obat tradisional.

Baca juga: Sumbangsih Mahasiswa UGM di Awal Kemerdekaan RI

Produk ini sampai mengundang ketertarikan negara lain untuk membeli.

Namun, pihak universitas tampaknya luput memberikan perhatian.

”Laboraturium padi lahan kering, padahal kita bisa tetap panen walau tanpa air. Begitu juga dengan penelitian obat tradisional malah ditutup. Padahal kita punya keunggulan di situ dan justru menjadi produk canggih di masa depan dan bisa mendunia,” ujar Warni.

Lanjut Warni menjelaskan, UGM perlu memberi banyak perhatian pada potensi yang dimiliki.

Masih Sering Diminta Membantu Universitas dan Fakultas

Meskipun sudah purna tugas, Warni tetap dengan senang hati membantu UGM terkait dengan data dan arsip.

Warni mengatakan, fotokopian dokumen penting ia bawa pulang.

Sebab, dokumen tersebut bisa dibutuhkan sewaktu-waktu oleh universitas.

“Aku kan ikut tim tanah di MWA, sering diajak bapak-bapak di sana rapat. Kalau pas rapat itu kan aku dapat, tak simpan. Meskipun aku sudah pensiun, kalau dapat dokumen penting, aku kasih beberapa ke Arsip UGM.

Diceritakan oleh Warni, dirinya pernah mendadak ditelepon oleh pihak UGM saat tengah malam, menanyakan berbagai dokumen penting.

Oleh karena itu, Warni menyimpan sendiri dokumen-dokumen tersebut, untuk berjaga-jaga jika ada pihak UGM yang membutuhkan informasi.

Warni kini sudah purna tugas dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Tetapi, di saat tertentu dirinya juga dimintai bantuan oleh Dewan Guru Besar, DPKM, serta menulis buku perkembangan berbagi fakultas di UGM. (Kinanthi)

Baca juga: Kala Gelanggang Lengang