KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pada 1988, sulitnya mencari pekerjaan mendorong Murjiono untuk mendaftar bekerja di Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (sekarang Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM—FKKMK). Sebagai pelayan laboratorium, tugasnya ialah menyediakan alat dan bahan praktikum untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM.

Usai ia bergulat selama dua belas tahun dengan pekerjaannya, kesempatan lain datang. Dua tahun kemudian, Murjiono memperoleh tawaran dari Dr. dr. Djoko Prakosa untuk membuat replika kerangka manusia. Mulanya, pria asal Sleman ini merasa ragu untuk menyanggupi tawaran tersebut. Namun, ia tetap mencobanya.

Replika pertama yang dibuat Murjiono berbentuk kerangka sederhana. Setelah berhasil, ia mencoba membuat tiruan lengan yang berinfus. Kendala mulai hadir pada proses ini.

Bagi Murjiono, pembuatan tiruan lengan berinfus tidak semudah membuat replika kerangka badan. Meski sering mengalami kegagalan, Murjiono tidak menyerah. Ia melakukan berbagai macam cara sampai berhasil.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Murjiono pun meningkat. Ia kemudian mampu membuat lengan jahit yang biasa digunakan pada praktik menjahit luka.

Dengan arahan sederhana Dr. dr. Djoko Prakosa, Murjiono bahkan mampu membuat replika alat kelamin pria, sirkumsisi, yang digunakan dalam praktikum sunat. Pada akhirnya, Murjiono dipercaya untuk menjalankan usaha Bengkel Anatomi FKKMK UGM.

Sebagai pelayan laboratorium FKKMK, Murjiono kerap berhubungan dengan kadaver, mayat yang diawetkan. Bahan utama pengawet mayat tersebut adalah formalin.