MACAN itu wanita atau laki-laki? Kalau singa wanita ya?” ucap seorang anak muda memertanyakan ikon pada simbol Kerajaan Kutai Kertanegara, yang dimuat di sebuah koran minggu terbitan ibukota. Ikon sebuah kerajaan di Kalimantan Timur itu berupa gambar dua harimau berdiri berhadapan secara simetris.

“Macan dan singa sama-sama ada yang laki-laki, ada yang perempuan,” sahut rekannya meluruskan.

“O, saya kira macan itu laki-laki. Kalau yang wanitanya, singa. Soalnya rambut singa kan lebih lebat dan panjang,” cetusnya berapologi.

Dialog itu dilontarkan oleh dua orang lelaki, Minggu (18/3/2018) siang di Pondok Rehabilitasi Pondok Tetirah Zikir di Dusun Kuton Desa Tegaltirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Si penanya masih dalam perawatan, sedangkan lawan bicaranya sudah sembuh setelah menjalani rehabilitasi selama 40 hari.

Siang itu cuaca cerah. Mereka berdua rehat di gazebo depan pondok. Beberapa pasien lainnya rehat di dalam bilik. Pengelola dan penanggung jawab pondok juga yang merawat mereka, H Muhammad Trihardono sedang keluar.

Pasien muda yang berstatus mahasiswa melanjutkan obrolan bersama rekannya, eks pasien yang sudah sembuh. Si mahasiswa menanyakan beberapa hal, antara lain sudah mendapatkan pekerjaan di mana? Bekerja sebagai apa? Bagaimana keluarganya?

Lalu, si mantan pasien bercerita, ia bekerja di sebuah sentra industri batik di Bandung bagian desain motif. Sehingga, setiap liburan ia masih kerap pulang pergi, Sleman – Bandung. Selanjutnya, mereka berdua mengajak kagama.co ikut bergabung mengobrol bersama mereka.

Tak lama kemudian azan mengumandang dari  masjid pondok. Si mantan pasien mengajak kagama.co ikut shalat dhuhur berjamaah. Usai shalat dan zikiran, kami pun melanjutkan obrolan. Setengah jam kemudian muncul mobil ambulans.

Pengemudinya Muhammad Trihardono. Ia baru saja mengikuti pertemuan bagi calon jamaah haji 2018 di Prambanan, Sleman. Alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM angkatan 1988 itu pun terlihat senang menyambut kagama.co.

“Sudah berapa pasiennya?” sambut kagama.co seraya guyon.

“Ha ha ha. Berapa ya? Ada kalau tujuh tiga,” ucapnya diiringi tawa lebar.

Mas Tri, demikian panggilan akrabnya, seakan tanpa beban. Meski ia merawat pasien sebanyak 73 orang, ia merasa yakin akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan.

Pasien yang menjalani rehabilitasi di pondoknya berlatar belakang macam-macam. Ada pelajar sekolah dasar (SD), ada juga yang sudah usia lanjut 90 tahun. Mahasiswa, residivis, dan juga sarjana. Bahkan, ada rencana akan menyusul masuk calon pasiennya, alumnus UGM seangkatan dia dan lulus cumlaude tapi belakangan mengalami gangguan jiwa.

Mas Tri tidak menganggap keberadaan mereka sebagai beban. Baginya, apabila ada pasien diantar keluarganya untuk dirawat di pondok, itu artinya Tuhan yang menggerakkan hatinya sehingga membawanya ke pondok rehabilitasi. .

“Semakin ada yang di pondok semakin berkah karena doa mereka (pasien –red) sungguhan. Meski tidak sedikit yang berat kondisinya, kalau sudah masuk ke sini kita anggap ringan. Karena, pasti akan dibantu Allah. Yang mendatangkan pasien Tuhan. Maka, Tuhan yang akan menolong mereka,” ungkapnya ringan.

Dengan memasrahkan persoalan kepada Tuhan, Tri tidak merasa terbebani harus menarget seorang pasien harus sembuh dalam waktu berapa hari berdasarkan tingkat ringan-beratnya derita mereka. Ia tidak pernah melakukan trial atau uji coba apa pun kepada pasiennya.

“Prinsip saya, sudah mau ke sini sudah Alhamdulillah. Apalagi mau shalat. Jangan memaksa apalagi menganiaya. Mereka ibarat keramik yang retak. Kalau tak hati-hati menangani malah bisa hancur,” tandasnya. [RTS]