Pencegahan Bullying Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar

101
Bullying sebagian besar terjadi di sekolah, termasuk Sekolah Dasar (SD). Foto: tribunnews.com
Bullying sebagian besar terjadi di sekolah, termasuk Sekolah Dasar (SD). Foto: tribunnews.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bullying bisa terjadi di mana saja. Namun, sebagian besar terjadi di sekolah, termasuk Sekolah Dasar (SD).

Peneliti dari FK-KMK UGM Hafidhotun Nabawiyah, Anggita Purnamasari, Dian Mawarni, menjelaskan, beragamnya jenis bullying membuat siswa tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan merupakan tindakan bullying, khususnya jenis verbal.

Dikutip dari berbagai sumber, bullying secara verbal biasanya terjadi pada siswa-siswa yang memiliki penampilan, fisik, sifat, atau latar belakang sosial yang berbeda dari siswa lainnya.

Misalnya, anak-anak yang kurang berprestasi di sekolahnya atau memiliki badan gemuk, kerap mengalami bullying secara verbal.

Anak yang menjadi korban bullying umumnya mudah tersinggung, tidak nafsu makan, tidak banyak bicara, dan tidak percaya diri.

Baca juga: Penyandang Disabilitas Jangan Takut Bermimpi Masuk UGM!

Peneliti mengamati, sebagian besar anak-anak sekolah dasar menganggap tindakan bullying yang mereka lakukan hanya candaan biasa.

Kemudian lebih dari setengah korban bullying, tidak melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa karena merasa takut.

“Dampak dari bullying dapat menjadikan korban stress, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal dan bahkan hingga memilih bunuh diri,” tulis peneliti.

Dalam jurnal yang diterbitkan oleh UGM Public Health Symposium berjudul Perlukah Pencegahan Bullying Masuk Dalam Kurikulum Sekolah Dasar? tahun 2018, peneliti memaparkan cara pengenalan pencegahan bullying di SD.

Salah satu cara tepatnya yaitu dengan memasukkan topik bullying ke dalam komponen kesehatan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

Baca juga: Alumnus UGM dan 12 Staf Kepresidenan Temui Jokowi Rancang Indonesia Maju