Pakar Hidrologi UGM Sebut Konsep Pengendalian Banjir Harus Berbasis Pemanfaatan Air Sebesar-besarnya

180
Konsep pengendalian banjir harus berbasis pemanfaatan air sebesar-besarnya. Harus dinormalisasi sungainya. Foto: Istimewa
Konsep pengendalian banjir harus berbasis pemanfaatan air sebesar-besarnya. Harus dinormalisasi sungainya. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Hingga Minggu (5/1/2020) total korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Jakarta, Banten dan Jawa Barat, ada 60 orang.

Sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia, juru bicara BNPB, Agus Wibowo mengatakan, pihaknya memberikan peringatan dini.

Hal ini supaya warga yang terdampak banjir tetap berada di pengungsian, terutama di wilayah yang genangan airnya masih tinggi.

Sebab, masih ada potensi hujan ekstrem beberapa hari ke depan.

Upaya penanganan dan pencegahan banjir, sudah selayaknya dilakukan seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah.

Baca juga: Real Estate di Jakarta Berkembang Pesat, Pakar UGM Usulkan AMDAL Khusus Banjir

Dalam hal pencegahan, penting bagi kita untuk menghadirkan solusi berangkat dari dasar, utamanya dimulai dari konsep atau pikiran yang kita bangun tentang pengelolaan sumber daya air.

Pakar hidrologi dan teknik pantai, Prof. Ir. Nur Yuwono, Dip.H.E., Ph.D. mengatakan, konsep pengelolaan sumber daya air harus diubah.

Dia menegaskan, air bukan dibuang, tetapi disimpan dan diberdayakan.

“Oleh sebab itu, konsep pengendalian banjir harus berbasis pemanfaatan air sebesar-besarnya. Harus dinormalisasi sungainya,” jelas Yuwono dalam jumpa pers di Ruang Rapat Humas UGM, pada Senin (06/01/2020).

Penyelesaian kedua yaitu menggunakan sistem jaringan untuk menangani hujan lokal.

Baca juga: Natuna Tak Akan Pernah Bernasib seperti Pulau Sipadan dan Ligitan