Pabrik Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat-obatan Farmasi Mutakhir Dibangun di Indonesia

106
Menurut Dubes, Pembangunan pabrik juga akan bermanfaat bagi peningkatan devisa negara, menciptakan lapangan kerja, serta membuka kesempatan transfer of technology. Foto: KBRI Beijing
Menurut Dubes, Pembangunan pabrik juga akan bermanfaat bagi peningkatan devisa negara, menciptakan lapangan kerja, serta membuka kesempatan transfer of technology. Foto: KBRI Beijing

KAGAMA.CO, KARAWANG – PT BrightGene Biomedical Indonesia melaksanakan Peletakan Batu Pertama/Groundbreaking pabrik pengolahan bahan baku aktif obat farmasi di Karawang New Industry City (KNIC) pada Sabtu (10/8/2019).

Pabrik dirancang untuk meningkatkan kapasitas dalam memproduksi dan memasok bahan baku aktif obat farmasi berkualitas dan berteknologi tinggi.

Acara dihadiri oleh Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, SpM (K),   Dra. Rita Endang, Apt, M. Kes sebagai Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotik, Psikotropik, Prekursor dan Zat Aktif dari BPOM, Duta Besar RI untuk RRT Djauhari Oratmangun, Pemerintah Kota Karawang, dan juga jajaran pimpinan dan para staff PT BrightGene Biomedical Indonesia.

Dubes Djauhari menyambut baik dan mendukung pembangunan ini.

Hal ini merupakan bagian dari wujud kerja sama konkret RI-RRT pada tingkatan B-to-B, dan akan berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan Indonesia terhadap bahan baku aktif obat-obatan farmasi.

PT BrightGene Biomedical Indonesia merupakan perusahaan gabungan (joint-venture) antara BrightGene Bio-Medical Technology Co., Ltd. China dan beberapa pengusaha farmasi Indonesia. Foto: KBRI Beijing
PT BrightGene Biomedical Indonesia merupakan perusahaan gabungan (joint-venture) antara BrightGene Bio-Medical Technology Co., Ltd. China dan beberapa pengusaha farmasi Indonesia. Foto: KBRI Beijing

Baca juga: Kembangkan Jamu Berbasis Kearifan Lokal, Farmasi UGM Bakal Gelar Festival Jamu Internasional

Menurut Dubes, Pembangunan pabrik juga akan bermanfaat bagi peningkatan devisa negara, menciptakan lapangan kerja, serta membuka kesempatan transfer of technology.

“Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku aktif obat farmasi impor dan meningkatkan ketersediaan obat-obatan jadi yang efektif di dalam negeri,” ujar alumnus FEB UGM itu.

Pengembangan pabrik yang berjangka waktu 10 tahun ini akan mencakup pembangunan pabrik pembuatan zat obat-obatan untuk produk onkologi dan anti-virus berkualitas dan berteknologi tinggi, serta pabrik formulasi untuk produk-produk sitotoksik dan hormon.

Pabrik yang bernilai investasi sebesar 580 Miliar Rupiah ini akan dibangun di atas lahan seluas 25,000 meter persegi di dalam KNIC, sebuah kawasan industri terintegrasi kelas dunia di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, SpM (K) menyampaikan, pabrik ini akan menjadi pencapaian yang luar biasa, dan langkah ini sesuai dengan komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk memastikan kehidupan yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Begini Kerja Sama Fakultas Farmasi dengan Belanda Tahun 1986 Silam