Orang-orang Muda ini ke Jogja Cari Ilmu untuk Bangun Papua

188
Ilustrasi: Pelaksanaan Ujian SD di SD Ilaga_Dok Gugus Tugas Papua_Dok Gugus Tugas Papua. Foto: GTP
Ilustrasi: Pelaksanaan Ujian SD di SD Ilaga_Dok Gugus Tugas Papua_Dok Gugus Tugas Papua. Foto: GTP

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pada pertengahan tahun 2017, sebanyak 15 orang remaja pria dari Papua dikirim oleh pemda setempat untuk menempuh studi di SMP 2 Depok dan SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

Mereka dipilih untuk mendapatkan beasiswa pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Puncak,Papua.

Selain beasiswa pendidikan, mereka juga mendapatkan bantuan biaya hidup.

Selama menempuh studi mereka tinggal di asrama, yang di rumah Ketua Gugus Tugas Papua UGM, Drs. Bambang Purwoko, M.A., yang terletak di Gang Serayu, Condong Catur, Sleman.

Kerja bakti bersama warga Condong Catur. Foto: Asrama
Kerja bakti bersama warga Condong Catur. Foto: Asrama

Baca juga: Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

Sayangnya, karena kesulitan mendapatkan izin dari orang tua, dari 15 orang yang terpilih, hanya delapan yang sanggup dikirim ke Yogyakarta.

Selanjutnya, seleksi alam kembali berjalan. Dari delapan orang itu, kemudian tersisa lima orang.

Tiga orang lainnya pulang ke Papua, karena sulit beradaptasi dengan iklim dan budaya di Jogja.

“Maklum di Puncak kan dingin, sementara di sini cuacanya panas,” ujar Boy Kiwak, ketua asrama, belum lama ini di kepada KAGAMA, di asrama.

Santai bersama teman-teman di teras asrama. Foto: Maulana
Santai bersama teman-teman di teras asrama. Foto: Maulana

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa

Menghapus Stigma

Kelima orang yang tersisa tampaknya benar-benar memiliki tekad baja untuk tetap bertahan menempuh studi di Kota Pelajar ini.

Empat orang bersekolah di SMA dan satu orang di SMP.

Tak sekadar bertahan, mereka juga berusaha membaur dengan warga setempat.

Buktinya, mereka rutin bersilahturahmi dan ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti kerja bakti, pengamanan lingkungan, dan saat perayaan Idul Fitri.

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Kontribusi kelima remaja itu pun akhirnya meruntuhkan stigma negatif yang kerap diterakan pada perantau asal Papua.

“Kami tiap ngopi bersama warga, sering ditanya bagaimana kondisi di Papua sana. Berkat penjelasan dan kedekatan kami dengan mereka, anggapan orang Papua seram-seram mulai hilang,” tutur Boy dengan aksen timur yang kental.

Keaktifan mereka tak berhenti pada lingkup kampung semata. Di sekolah mereka juga terlibat dalam ekstra kurikuler, terutama futsal.

Hal ini membuat mereka bisa lebih membaur dengan teman-temannya yang mayoritas beretnis Jawa.

Ketua GTP Drs. Bambang Purwoko, MA. Foto: Taufiq
Ketua GTP Drs. Bambang Purwoko, MA. Foto: Taufiq

Baca juga: Kagama Papua Barat Ajak Seluruh Alumni Bangun Tanah Papua

Sempat Tawuran

Saking membaurnya mereka, Heriyanto, salah seorang pembina yang pernah menemani mereka di asrama hingga tengah tahun pernah dibuat ketar-ketir.

Kala itu, saking dikenalnya murid-murid dari Papua oleh anak-anak SMAN 1 Depok, Boy, sang ketua asrama pernah diajak ikut tawuran.

Boy menyambut tawaran tersebut. Ia bahkan punya pengalaman dua kali ikut tawuran antar sekolah.

Suatu hari, Heriyanto tidak sengaja melihat Boy sedang nongkrong di angkringan.

Baca juga: Kagama Goes to Munas Gelar Gerakan Bali Resik Sampah Plastik

Ia pun kaget melihat Boy begitu erat dengan segerombolan peminum dan perokok yang dikenal gemar berbuat onar.

Ketika di asrama Heriyanto menegur Boy secara tidak langsung ala orang Jawa. “Jauh-jauh ke sini sudah jadi orang hebat ya sekarang?” sindir Heriyanto.

Tentu saja Boy merasa tersindir oleh pertanyaan tersebut, sehingga ia memutuskan keluar dari rantai pertemanan yang ‘memaksanya’ terlibat dalam tawuran antarsekolah.

Kini, kegiatan anak-anak muda Papua itu lebih banyak diisi dengan hal-hal positif.

Kemah bersama teman-teman. Foto: Asrama
Kemah bersama teman-teman. Foto: Asrama

Baca juga: Masyarakat Perlu Terlibat dalam Kegiatan Literasi Digital

Tak jarang, teman-teman sekolah mereka datang ke asrama.

Menurut Darius, penghuni asrama yang kini duduk di kelas XI Sosial SMAN 1 Depok, teman-teman sekolahnya sering datang ke asrama untuk belajar bersama atau menonton pertandingan sepak bola.

Di asrama, Ketua Gugus Tugas Papua (GTP) UGM Bambang Purwoko selaku penanggungjawab program beasiswa ini menyediakan guru les matematika dan bahasa Inggris.

GTP juga rutin mengirim guru SD, SMP, maupun SMA ke Papua untuk misi pendidikan.

Baca juga: Soal Ekonomi Digital, Indonesia Perlu Buat Regulasi Khusus

Tak jarang les itu juga diikuti oleh siswa SMAN 1 Depok lainnya.  Mereka juga dibiasakan membaca koran setiap pagi dan sore.

Dengan bekal pendidikan yang baik, para pemuda Papua ini pun semakin bersemangat untuk mengukir mimpi.

Mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Mereka berniat kembali ke Papua jika sudah mengantongi banyak pengetahuan.

“Saya ingin menjadi wirausahawan,” ujar Darius mantap.

Sementara Boy yang berperawakan kecil mengaku ingin menjadi bupati, agar bisa membangun Kabupaten Puncak.

“Saya ingin menjadi bupati saat besar nanti, agar bisa membangun dan mengembangkan masyarakat di sana,” tekadnya. (Venda)

Baca juga: Menyikapi Guncangan Ekonomi Digital di Dunia Keuangan dan Pasar Modal