OK. AdiGita Gama, Wadah Para Mantan Aktivis Gelanggang Bermain Keroncong

61
Tak hanya para alumni Unit Keroncong UGM, komunitas ini juga terbuka bagi para alumni yang dulunya pernah berkecimpung di Gelanggang Mahasiswa. Foto: Nabil
Tak hanya para alumni Unit Keroncong UGM, komunitas ini juga terbuka bagi para alumni yang dulunya pernah berkecimpung di Gelanggang Mahasiswa. Foto: Nabil

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Keroncong, aliran musik yang ratusan tahun lalu diperkenalkan bangsa Portugis lantas digubah oleh para budak dari Ambon, kini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Bedanya, jika dulu keroncong dimainkan oleh para budak, maka kini kaum intelektual juga turut memainkannya.

Setidaknya, hal itu bisa dilihat dari Orkes Keroncong AdiGita Gama.

“Komunitas ini didirikan oleh para alumni unit keroncong mahasiswa UGM,” ujar Prabowo Laksono, ketua komunitas Adigita kepada KAGAMA belum lama ini.

Awalnya komunitas ini masih rutin berkumpul dan bermain musik setelah tiap personelnya lulus dari UGM.

“Dulu kami beberapa kali kumpul dan main. Salah satunya waktu Niti Laku. Lantas baru Desember 2017 kami memutuskan meresmikan komunitas ini,” kenang peniup flute ini, di sela-sela latihan di Wisma Kagama.

Kesibukan masing-masing anggota yang kini sudah berkeluarga dan bekerja merupakan tantangan terberat yang harus dihadapi.

Baca juga: Hobi Nongkrong di Perpustakaan Sejak Kuliah, Alumnus Fisipol UGM Ini Galakkan Budaya Literasi di Purworejo

Untungnya, di tengah berbagai tantangan yang diahadapi, Prabowo bertemu Sunarno, ketua komunitas Adi Swara UGM (Alumni Paduan Suara UGM).

“Dulu nama (komunitas) kami Keroncong Gita Kapa, itu yang memberi nama Almarhum Pak Koesnadi, karena sudah bubar sulit dikumpulkan.”

“Untungnya kami bertemu Sunarno, beliau orang Adi Swara, melalui ajakan beliau terbentuklah AdiGita Gama yang mengkolaborasi keroncong dan paduan suara,” jelas alumnus Fakultas Peternakan angkatan 1987 ini.

Sunarno, kondaktor paduan suara, awalnya mengaku kesulitan mencari jadwal latihan.

Tetapi akhirnya bisa terbentuk dan latihan rutin tiap Rabu sore.

Kendati baru terbentuk kala itu, komunitas ini telah pentas sebanyak dua kali di PKKH UGM dan Gedung Kepatihan.

Sunarno menjelaskan mengapa dia berinisiatif menggabungkan keroncong dengan paduan suara.

Baca juga: Sosiolog Kriminal UGM Angkat Bicara Soal Klitih di Yogyakarta