BULAKSUMUR, KAGAMA. “Djogdja Djadoel Sehari, Djogdja Moeda Kembali”, itu tagline prosesi Nitilaku sebagai rangkaian dari Dies Natalis ke-67 Universitas Gadjah Mada yang akan digelar pada tanggal 18 Desember 2016. Jadi untuk pertama kalinya dalam Nitilaku, suasana jadul atau jaman dulu kala UGM boyongan dari Pagelaran Kraton Yogyakarta menuju kampus Bulaksumur kembali dihidupkan.

Tidak hanya segenap civitas akademika, Panitia Pelaksana Nitilaku juga melibatkan peran serta masyarakat luas guna menyemarakkan kegiatan ini dengan menggunakan berbagai atribut yang berbau masa lalu sehingga Yogyakarta akan beratmosfer jadul dalam sehari.

“Kami ingin Nitilaku tak lagi menjadi event internal civitas akademika UGM, tapi kegiatan ini bisa melibatkan masyarakat luas. Guna menarik minat dan mendatangkan masyarakat secara masif, maka Panpel mesti mengemas acara ini secara menarik. Muncullah ide menghidupkan kembali kenangan masa lalu semasa UGM pindah dari Pagelaran Kraton Yogya ke Bulaksumur. Kami membuat tagline “Djogdja Djadoel Sehari, Djogdja Moeda Kembali.”  Jadi nanti para peserta pawai bakal mengenakan atribut bergaya jadul, mulai dari pakaian, aksesoris, hingga dandanannya,” tutur Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D, Ketua Panitia Nitilaku 2016, kala ditemui Kagama.

Guna memperkuat kesan jaman dulu, Panpel bekerjasama dengan komunitas penghobi seperti sepeda ontel dan mobil kuno untuk berpartisipasi dalam pawai. “Kami juga menjalin kerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) dan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia Yogyakarta untuk mengumandangkan lagu-lagu tempo dulu saat hari H,” tutur Ketua Program Studi S2 UGM ini.

Bukan itu saja, Panpel Nitilaku pun menggandeng harian Kedaulatan Rakyat untuk membuat suplemen atau edisi khusus sebanyak empat halaman yang sengaja ditulis dalam ejaan lama dan diedarkan tepat pada tanggal 18 Desember ini. Isinya berupa tulisan-tulisan yang mengupas sejarah serta perkembangan UGM dari masa ke masa, hingga tulisan humanis maupun kenangan para alumni yang dulu masih menjadi mahasiswa di era tersebut.

“Kami berharap Nitilaku bisa jadi sebuah event, yang dihibahkan UGM kepada masyarakat Yogyakarta, secara khusus, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, sebagai event budaya, seni, dan pariwisata,” ungkap Adji lagi.