Nglanggeran Desa Wisata Terbaik ASEAN 2017, Begini Rahasianya

15
Nglanggeran.(Foto: Tribun)
Nglanggeran.(Foto: Tribun)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Gunung Kidul biasanya dikenal sebagai wilayah tandus, sulit air, dan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya tertinggal. Bahkan, penduduknya mengaku malu memperkenalkan diri sebagai orang Gunung Kidul.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sugeng Handoko, S.T. , Pengelola Desa Wisata Terbaik ASEAN 2017 dalam Geo Talk 2019: Pemberdayaan dan Kemandirian Desa di Era Revolusi Industri 4.0 di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM pada Rabu (16/01/2019).

Kondisi Gunung Kidul yang telah dijelaskan Sugeng memang terjadi pada 15-20 tahun yang lalu. Akan tetapi, untuk saat ini penduduk bangga memperkenalkan dirinya yang beridentitas sebagai orang Gunung Kidul, terutama orang-orang yang tinggal di Desa Nglanggeran.

“Sekarang orang bangga memperkenalkan diri dari Nglanggeran karena telah mampu mengembangkan potensi yang ada di desanya,” ungkapnya.

Geo Talk 2019: Pemberdayaan dan Kemandirian Desa di Era Revolusi Industri 4.0.(Foto: Tita)
Geo Talk 2019: Pemberdayaan dan Kemandirian Desa di Era Revolusi Industri 4.0.(Foto: Tita)

Sebagai moderator acara, Agung Satriyo Nugroho, S.Si., M.Sc, dari Study Center of Settlement, Transmigration, and Border Studies, Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di Desa Nglanggeran sudah menurun drastis karena mampu mengelola komoditas dan SDM yang ada dengan semaksimal mungkin.

Ia pun yakin bahwa penduduk Nglanggeran punya penghasilan lebih dari Upah Minimum Regional (UMR), walaupun hanya tinggal di desa. “Hal ini dapat diwujudkan karena ada peran Sugeng sebagai anak muda yang tidak pergi ke kota untuk bekerja, melainkan membangun desanya, meskipun dia sendiri bukanlah kepala desa,” ungkapnya.

Sugeng menjelaskan bahwa pengembangan Desa Nglanggeran berawal dari masalah lingkungan. Penduduk banyak yang mengambil batu atau pohon dari situs gunung api purba untuk kegiatan ekonomi, padahal benda-benda tersebut merupakan aset penting untuk dikembangkan lebih lanjut.

Selain itu, SDM di desa juga banyak berkurang karena tingginya tingkat urbanisasi. Usia muda yang produktif lebih memilih bekerja di kota lain atau luar negeri, sehingga penduduk yang tersisa di desa hanyalah anak-anak yang masih sekolah dan orang tua yang sudah sepuh.