Natasha Jadi Lulusan Terbaik Berkat Coretan di Dinding Kamarnya

409
Selama kuliah, Natasha berhasil merebut juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Mahasiswa Nasional tahun 2017 dan menjadi Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Ilmu Budaya tahun 2019. Foto: Istimewa
Selama kuliah, Natasha berhasil merebut juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Mahasiswa Nasional tahun 2017 dan menjadi Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Ilmu Budaya tahun 2019. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Wisuda Program Sarjana dan Diploma IV Tahun Akademik 2018/2019 digelar pada Rabu-Kamis (21-22/8/2019) di GSP UGM.

Jumlah wisudawan yang berpredikat cumlaude untuk program sarjana berjumlah 1.128 lulusan dan diploma sebanyak 562 lulusan.

Natasha Devanand Dhanwani S.Ant adalah salah satu wisudawati Antropologi yang menjadi wakil wisudawan atau lulusan terbaik Fakultas Ilmu Budaya pada wisuda hari kedua.

Selama kuliah, Natasha mengaku lebih banyak disibukkan dengan penelitian-penelitian di beberapa tempat seperti di Pekalongan, Gunung Kidul dan Kepulauan Sangihe, di perbatasan Indonesia Filipina.

Baca juga: KKN UGM Gandeng PP KAGAMA Kembangkan Kawasan Perkotaan Baru Rasau Jaya

Studi perbatasan ia pilih karena nenek moyangnya memiliki pengalaman personal seputar dunia perbatasan.

“Keluarga besar Saya dulu tinggal di perbatasan India dan Pakistan. Saat Pakistan terbentuk, mereka yang beragama Hindu memilih pindah rumah. Pergi menjauh dari perbatasan. Beberapa ada yang hilang dan sampai sekarang tidak pernah bertemu,” jelas anak dari seorang imigran India ini kepada KAGAMA, usai wisuda.

Selain penelitian, ia juga kerap mengikuti konferensi dari hasil penelitiannya.

Beberapa konferensi yang telah dia ikuti antara lain di LIPI dan Jepang, The 2th Indonesian Youth Conference on Sustainable Development (2017),The 2nd International Conference on Social Sciences and Humanities (ICSSH 2018), 13th International Conference on Languange, Education, Humanities and Innovation (ICLEHI 2019), dan ditutup dengan Ekspedisi Sangihe pada 26 April 2019.

Baca juga: Kagama Goes to Munas Gelar Gerakan Bali Resik Sampah Plastik

Memiliki passion dalam dunia penelitian di wilayah perbatasan tak membuat Natasha melupakan aktivitas non-akademik.

Ia tercatat ia pernah menjabat sebagai sekretaris di Kemant (Keluarga Mahasiswa Antropologi) dan sebagai ketua Unit Penalaran Ilmiah Humanika.

Natasha juga pernah terlibat dalam Tim Penelitian Lapangan Antropologi yang berfokus pada tema-tema pertanian.

Coretan di Dinding Kamar

Dalam mengatur kegiatan selama ini, Natasha merasa tidak pernah benar-benar membagi waktu dengan baik.

“Selama ini hanya go with the flow saja dan selalu menjadi deadliner bahkan dalam mengerjakan skripsi,” kata peraih IPK 3,92 ini.

Karena merasa kurang pintar dalam membagi waktu, wisudawati asal Terban, Yogyakarta ini memiliki kebiasaan unik dengan mencorat-coret dinding kamarnya.

Coretan dinding itu menjadi pengingatnya terhadap tugas-tugas yang perlu segera diselesaikan.

Perempuan yang baru saja merayakan hari lahirnya pada 12 Agustus ini ingin merasakan bekerja sebagai jurnalis media di Indonesia setelah kelulusannya, hingga kemudian melanjutkan studi master. Foto: Istimewa
Perempuan yang baru saja merayakan hari lahirnya pada 12 Agustus ini ingin merasakan bekerja sebagai jurnalis media di Indonesia setelah kelulusannya, hingga kemudian melanjutkan studi master. Foto: Istimewa

Baca juga: Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadiri Munas Kagama 2019

Walau ia kerap menulis dan menggumpulkan tugas mepet dengan tenggat pengumpulan, tugas-tugas tersebut selalu ia kerjakan dengan maksimal.

“Saya kalau ngerjain tugas gak pernah asal-asalan. Selalu maksimal, karena gak pengen mengecewakan orang tua. Mereka kan gak tahu antropologi itu apa, masak mau saya kecewakan dengan kuliah yang asal-asalan,” jelas Natasha dengan logat Jawa yang medhok.

Sempat Diremehkan

Terdapat cerita unik yang dialami Natasha ketika menjadi mahasiswa Antropologi.

Dia merasa selama ini jurusannya dipandang sebelah mata oleh banyak orang, bahkan oleh saudara-saudaranya.

“Tidak jarang orang tua saya ditanyai, anakmu kuliah di UGM jurusan apa? Dan ketika dijawab Antropologi maka jawaban mereka, Oh yang gali-gali kubur itu, mau kerja dimana nantinya?” tuturnya menirukan.

Dalam kurun waktu tersebut orang tua Natasha sempat merasa sedih, namun saat ini mereka mulai mengerti apa itu Antropologi dan merasa bangga akan prestasi Natasha.

Baca juga: Munas Kagama Tempo Dulu, Pak Koes Terpilih Dua Kali Berturut-turut

Lambat laun setelah melihat kiprah Natasha, orang tua mulai mengerti pentingnya studi Antropologi, salah satunya yakni meneliti dunia manusia yang meliputi apa saja.

Lulusan Antropologi juga dinilai fleksibel dan punya banyak peluang tidak hanya di bidang akademik, namun juga industri dan perbankan.

Di hari kelulusannya, orang tua Natasha semakin bangga akan dirinya karena mampu mewakili fakultas dengan hasil yang memuaskan.

Perempuan yang baru saja merayakan hari lahirnya pada 12 Agustus ini ingin merasakan bekerja sebagai jurnalis media di Indonesia setelah kelulusannya, hingga kemudian melanjutkan studi master.

Baca juga: Tipe Pemimpin Organisasi yang Tidak Disukai Anggotanya

“Ingin mencari pengalaman di dunia kerja dulu, sehingga ketika lulus S2 saya sudah memiliki pengalaman bekerja nantinya,” jelasnya.

Memiliki moto hidup don’t chase success, chase excellence and success will follow yang diadopsi dari film 3 Idiots, ia berpesan kepada para mahasiswa agar kuliah jangan dibawa spaneng, namun lakukan yang terbaik dan jangan sampai mengganggu mental health kita.

Selama kuliah, Natasha berhasil merebut juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Mahasiswa Nasional tahun 2017 dan menjadi Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Ilmu Budaya tahun 2019. (Venda/Sirajuddin)

Baca juga: Cara Bijak Kelola Dana Beasiswa