Momentum Hari Anak Nasional, Produksi Konten Anak di Media Perlu Dikembangkan

166

Berbagai Usulan Pemecahan Masalah

Orang dewasa di sekitar anak, perlu mengajak anak berdiskusi tentang tontonan mereka di media.

“Karena bagaimana pun semua hal yang ada di sekitar anak akan mempengaruhi anak. Bagaimana mereka menangkap atau memaknai, orang tua dan anak perlu mendiskusikannya.” Artinya, kata Dian, selalu ada proses untuk bisa memaknai sesuatu bersama-sama. Proses bagaimana anak memandang sesuatu menjadi elemen penting.

Lanjut Dian menjelaskan, berapa pun usia penontonnya, pasti memiliki persepsi yang beragam. Tanpa kita memiliki interaksi antar persepsi, dampak negatif dari tontonan anak pasti terjadi. Dewasa ini, terlalu sering asumsi yang mengkambing hitamkan media sebagai penyebab, faktor pergaulan anak, atau faktor eksternal lainnya.

“Padahal proses pembangunan makna oleh anak ini yang seharusnya didampingi,” ujar alumnus S1 Departemen Ilmu Komunikasi angkatan 1998 ini.

Artinya, penting bagi orang tua untuk menemani anak ketika menonton tayangan di media. Poin ini krusial dan seharusnya menjadi perhatian utama. Menurut Dian, kecerdasan dalam bermedia perlu ditularkan kepada masyarakat.

Baca juga: Titiek Broto, Sosok Ibu di Balik Kesuksesan Anaknya yang Down Syndrome

Selain itu, Dian menuturkan aturan waktu penayangan dan pemberian batasan umur pada penayangan, serta pemahaman anak terhadap konten siaran, masih menjadi cara yang tepat.

“Jadi, solusinya bukan pada pelarangan. Menurut saya itu malah tidak efektif,” tegasnya.

Senada dengan pengalaman dan saran yang disampaikan Dian, Ampuni tidak terlalu membatasi anak dalam bermain gawai, mengingat teknologi sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Walaupun demikian, Ampuni selalu mengawasi anaknya.

“Anak saya biasa bermain games dengan gadget-nya. Tetapi, saya ikut menawarkan games yang menyeimbangkan aktivitas fisik dan motorik. Dalam games tersebut ada aktivitas berinteraksi dengan teman,” jelas dosen yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Swinburne University of Tech, Australia.

Ampuni menyayangkan minimnya tayangan di media yang baik untuk anak, khususnya dari Indonesia. Padahal menurutnya ada beberapa orang Indonesia yang bertalenta dalam membuat tayangan anak, misalnya animasi.

Baca juga: Pameran 90 Karya Seni Rupa dari Anak Down Syndrome

“Menurut saya kalau tidak ada pihak swasta yang berinisiatif, ya berarti pemerintah yang harus bergerak,” tandasnya. Selain itu, perlu juga riset mengenai konten di berbagai media untuk anak-anak. Berarti akademisi juga perlu berperan.

Kagiatan Pengabdian Masyarakat tentang Isu Anak dan Media

Departemen Ilmu Komunikasi sangat concern dalam tatanan ini. Mereka sudah bergerak lama di isu literasi media, dan erat kaitannya dengan anak-anak. Upaya ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.

“Kita sama-sama belajar tentang media, bahkan kami mengajak orang tua anak juga bergabung. Bentuknya literasi media, kita belajar tentang media, data media, dan seterusnya. Dari mana kita membaca media,” ungkap Dian.

Waktu itu, departemen lebih fokus literasi media games. Menurut Dian, ada tren yang luar biasa dari gawai. Ini merupakan bentuk dari kegiatan pengabdian masyarakat yang masih menjadi program reguler Departemen Ilmu Komunikasi, bersifat holistik, dan lingkupnya nasional.

Dijelaskan oleh Dian, kegiatan ini bermula dari riset tentang literasi media, media yang baik di masyarakat, bagaimana perkembangan media, dan sebagainya. Kemudian sampai pada tataran pelatihan ke masyarakat. Saat ini pengembangannya sudah pada level bekerja sama dengan universitas-universitas lain, serta dibantu oleh UNESCO.

Baca juga: Stop Anggap Anak Indigo Mengalami Gangguan! Mereka Punya Keistimewaan

“Respon masyarakat positif dan bahkan bisa juga memanfaatkan media dengan lebih tepat guna,” ungkap dosen yang juga sedang aktif sebagai Director of Digital Media and Communication Research Center (DECODE) UGM itu.

Dari Fakultas Psikologi belum ada kegiatan pengabdian masyarakat khusus isu anak yang rutin dilakukan. Namun, setiap kali Ampuni diundang sebagai pembicara dalam sesi parenting, masyarakat antusias membahas ini, termasuk membahas perilaku anak.

“Kalau kami lebih banyak membahas literasi dalam bentuk buku. Kami sosialisasikan supaya anak tetap membaca buku untuk mengimbangi media,” jelasnya.

Selain audio visual, membaca juga menjadi stimulasi yang penting bagi anak. Bila seseorang hanya mengonsumsi informasi dari media audio visual tanpa membaca, maka ia tidak bisa menumbuhkan daya kritisnya.

“Sering kali tayangan diterima begitu saja sebagai fakta. Padahal sebagian di antaranya adalah opini,” ujar Ampuni.

Baca juga: Mengenal Suporahardjo, Sosok di Balik Tanoker yang Ramah Anak

Hari Anak Nasional sebagai Momentum Cerdas Mengonsumsi Informasi

Menurut Ampuni, bila media dimanfaatkan dengan baik, kiranya tidak akan menimbulkan masalah. Asalkan juga diimbangi dengan aktivitas fisik dan motorik, serta bersosialisasi dengan orang lain.

Ampuni mencontohkan, saat ia berada di mobil bersama anak-anaknya, Ampuni mengimbau anak untuk tidak bermain gawai. Tetapi mengajak mereka untuk memandangi lingkungan di sekitarnya sepanjang perjalanan.

Hari Anak Nasional menjadi momentum baik bagi masyarakat, khususnya orang dewasa untuk mengajak anak lebih cerdas dalam bermedia.

“Bersama-sama kita berusaha menyediakan tayangan yang ramah anak, artinya fokus pada pengembangan dan kepentingan anak, baik dari pesan dan kontennya,” imbau Dian. (Kinanthi)

Baca juga: Satpam UGM Terima Penghargaan Keluarga Hebat Berkat Sukses Kuliahkan Keempat Anaknya