Momentum Hari Anak Nasional, Produksi Konten Anak di Media Perlu Dikembangkan

166

Baca juga: Cara Menteri Yohana Memutus Mata Rantai Pernikahan Anak

Kita tentu sudah sering mendengar berbagai kasus anak yang menirukan adegan kekerasan dari berbagai media, sehingga membuat kawannya meregang nyawa. Tidak hanya berbuntut pada perilaku kekerasan, tetapi juga pada perilaku lain seperti tindakan asusila.

Dari pengalaman Dian, bagaimana anaknya menyaring tayangan televisi yang ditontonnya, memang setiap manusia pada dasarnya mengalami proses menyaring ketika menyaksikan sesuatu.

“Khusus untuk anak-anak, hal yang bisa dilakukan adalah menemani mereka. Menemani itu maksudnya ada proses diskusi juga untuk memahami,” jelas Dian.

Sementara ditinjau dari sisi psikologis, proses anak meniru adegan di tayangan media dapat dianalisis menggunakan modelling theory, khususnya social learning theory.

“Memang orang itu berperilaku mencontoh dari model yang dilihatnya. Belajar itu melalui cara meniru perilaku,” pungkas Ampuni. Lanjut Ampuni menambahkan, model tersebut bisa dilihat melalui tontonan langsung atau tidak langsung.

Baca juga: Modal Sosial, Modal Ibu Atasi Permasalahan Gizi Anak

Ampuni merujuk pada pemikiran Maria Montessori, bahwa anak usia dini, khususnya di bawah usia lima tahun ini layaknya spons, apapun pasti diserap dan dipraktikkan kembali.

“Masa-masa usia dini merupakan masa yang sangat peka dengan lingkungannya. Mereka menyerap, mempelajari, kemudian dipraktikkan,” jelas Ampuni.

Elemen yang Berperan sebagai ‘Filter’

Ada beragam elemen yang berperan untuk mengatasi persoalan ini. Dian memaparkan beberapa elemen yang berperan. Pertama dari industri media dan pemerintah, termasuk kebijakan atau aturan-aturan publik, terutama yang berkaitan dengan prosedur penayangan. Misalnya range usia setiap tayangan pada media. Ini masih menjadi cara yang relevan untuk mengurangi risiko dampak negatif tayangan televisi terhadap perilaku anak.

Kedua, jika ada kaitannya dengan anak, tentu keluarga punya peran yang sangat besar.

Sementara Ampuni memaparkan dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, pihak yang berwenang juga berperan besar dalam upaya pengembangan anak, terutama soal penyediaan tontonan yang tepat.

Baca juga: Begini Cara Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah

“Kalau untuk media sosial seperti itu, pemerintah mungkin masih kesulitan dan masih perlu meraba apa yang harus dilakukan. Mereka lebih punya kewenangan untuk mengatur tayangan televisi. Tetapi, yang saya lihat, peran pemerintah untuk menyediakan tayangan televisi yang tepat sesuai usia anak saja masih kurang,” tandasnya.

Kedua, orang dewasa di sekitar anak harus pandai-pandai menjadi filter, mereka harus mendampingi anak. Misalnya, ketika anak sedang mengakses YouTube, orang tua perlu melakukan pengaturan khusus, agar rekomendasi tontonan yang muncul adalah video edukasi untuk anak.

“Orang tua harus bisa memilih dan memilah mana tontonan yang sesuai untuk anaknya, termasuk mengatur jenis konten dan durasi. Berapa lama sebaiknya anak boleh berada di depan layar,” ungkap alumnus S1 Fakultas Psikologi angkatan 1992 ini.

Diakui Ampuni, sampai saat  ini belum ada riset khusus mengenai porsi tontonan yang ideal untuk anak. Namun, orang tua harus mempunyai feeling pada anak. Sebab, setiap anak memiliki karakternya masing-masing.

Baca juga: Bernostalgia dengan Cerita Anak Seri Keluarga Cemara