Momentum Hari Anak Nasional, Produksi Konten Anak di Media Perlu Dikembangkan

152
Hari Anak Nasional menjadi momentum baik bagi masyarakat, khususnya orang dewasa untuk mengajak anak lebih cerdas dalam bermedia. Foto: CPMH
Hari Anak Nasional menjadi momentum baik bagi masyarakat, khususnya orang dewasa untuk mengajak anak lebih cerdas dalam bermedia. Foto: CPMH

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Seorang alumnus UGM, Charisah Andriyani, bercerita soal masa-masa KKN-nya tahun 2016 lalu. Ia KKN di Desa Leilem, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kala itu, ia bersama teman satu timnya menginap di rumah salah satu keluarga yang mempunyai anak berusia balita, berinisial G.

G termasuk anak yang cerdas di usianya, ia mudah menangkap ketika diberi arahan, juga selalu dengan senang hati bila dimintai pertolongan. Namun, soal tayangan televisi dan konsumsi informasi, G masih perlu bimbingan.

“Anak-anak di sini sukanya nonton sinetron Anak Jalanan,” ungkap Charisah yang pada saat itu ikut mengawasi G bermain gawai. Charisah mendapati G sedang mengakses platform YouTube dan membuka berbagai video sinetron remaja.

Merasa video tersebut bukan tontonan yang tepat untuk anak seusia G, Charisah langsung mengganti video sinetron itu dengan video lagu anak-anak.

Cerita yang sama juga dialami oleh teman-teman Charisah yang lain. Tayangan televisi dan konsumsi informasi bagi anak-anak balita dan anak-anak sekolah dasar di Desa Leilem menjadi perhatian tersendiri bagi mahasiswa KKN.

Baca juga: Tradisi Luru Duit, Bentuk Eksploitasi Seks Komersial pada Anak

Fenomena lain yang hampir serupa juga didapati di salah satu perumahan di daerah Purwomartani, Kalasan, Sleman. Anak berinisial Z berusia 3 tahun, bermain di rumah tetangganya. Beberapa kali ia menekan tombol-tombol remot televisi, kemudian muncullah tayangan sinetron yang memperlihatkan adegan pemainnya yang sedang marah-marah sambil membongkar lemari baju.

Z tampak begitu menikmati tayangan itu. Endang si pemilik rumah yang menyaksikan hal tersebut, langsung mengambil remotnya dan mengganti channel televisi. Sementara itu, sang ibu Mila Rohimah, bahkan juga menyaksikan anaknya mempraktikkan adegan yang ada di televisi.

Dikisahkan oleh Mila, Z kerap kali fokus terhadap apa yang dilihatnya, baik dari tayangan televisi, platform YouTube, atau melihat perilaku orang secara langsung.

“Waktu itu pernah, Ayahnya menonton semacam film yang ada adegan berantemnya gitu, Z juga ikut nonton. Besoknya adegan-adegan di film, dia praktikan ke temannya,” ungkap Mila kepada KAGAMA belum lama ini. Sejak saat itu, Mila mulai mengawasi anaknya ketika menonton televisi.

Dr. Dian Arymami, S.I.P., M.Hum. Foto: Istimewa
Dr. Dian Arymami, S.I.P., M.Hum. Foto: Istimewa

Baca juga: Aplikasi Game Meet Pharmy, Kenalkan Dunia Kefarmasian kepada Anak-anak

Variasi Media dan Pergeserannya

Dr. Dian Arymami, SIP, M.Hum, dosen Ilmu Komunikasi UGM mengutarakan bila dilihat dari data tentang produksi konten, televisi saat ini lebih sedikit penontonnya dibandingkan dulu.

Senada dengan yang disampaikan oleh Dian, Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si, dosen Fakultas Psikologi UGM mengatakan saat ini orang mengkonsumsi informasi sudah bergeser dari televisi ke gawai.

Meskipun demikian, bagi Ampuni, bila konten tayangan televisi bisa disampaikan dengan baik dengan mempertimbangkan jam tayang dan unsur edukatifnya, maka ini bisa menjadi alternatif.

Dugaan sementara dalam konteks ini, tayangan khusus anak di televisi sangat minim, sehingga anak kemudian beralih ke gawai. Alih-alih bisa mengkonsumsi lebih banyak konten edukatif, candu anak terhadap gawai justru menimbulkan persoalan baru.

Baca juga: Empat Cara Siapkan Dana Sekolah Anak