Mimpi Milenial Membeli Rumah

151
Milenial pesimis, jumlah upah yang mereka terima tidak sebanding dengan harga properti yang semakin melonjak. Foto: juraganmuslim.com
Milenial pesimis, jumlah upah yang mereka terima tidak sebanding dengan harga properti yang semakin melonjak. Foto: juraganmuslim.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebuah situs properti Rumah123 pada 2017 lalu melakukan survei yang hasilnya menunujukkan, generasi milenial di Indonesia 5 persen di antaranya tidak bisa memiliki rumah.

Hal ini sontak membuat milenial mendadak pesimis, mengingat jumlah upah yang mereka terima tidak sebanding dengan harga properti yang semakin melonjak.

Kekhawatiran itu belum juga hilang, terutama di kalangan milenial asal DIY.

Dikutip dari laman joga.prov.go.id, Pemerintah Provinsi DIY pada 10 Oktober 2019 telah menetapkan besaran UMP pada 2020 sebesar Rp1.704.608,25.

Pesimis Membeli Rumah akibat UMP Rendah

Kenaikan UMP sebesar 8,51 persen itu, DIY diperkirakan menjadi daerah dengan UMP terendah se-Indonesia.

Sebagian milenial pun merasa pesimis bisa menabung untuk masa depannya, termasuk untuk membeli rumah.

NR (26) salah satu penduduk asli Kota Yogyakarta sehari-harinya membuka jasa MUA dengan pendapatan yang relatif.

Satu klien dia kenakan tarif sekitar Rp200.000-300.000.

Sedangkan suaminya berprofesi sebagai sopir laundry hotel yang pendapatannya sama dengan jumlah UMP DIY.

Dengan gabungan pendapatan itu, NR bersama suaminya harus menghidupi kebutuhan keluarga, termasuk kedua anaknya yang masih sekolah dan balita.

Baca juga: Mengatasi Anak yang Mogok Sekolah

“Kadang masih ditambah bisnis kecil-kecilan, jualan make up, skin care, aksesoris, sama kue. Tapi, itu penghasilannya nggak pasti. Boro-boro ngajuin KPR,” jelas NR.

Hampir sepuluh tahun menikah, NR bersama keluarganya belum bisa membeli hunian sendiri.

Selama ini mereka tinggal bersama orang tua, kemudian baru beberapa tahun belakangan mengontrak rumah.

Ramai pula di jagat dunia maya pasca ditetapkannya besaran UMP DIY ini.

Pemilik akun berinisial AB, yang diketahui merupakan salah satu mahasiswa universitas di Jogja menuliskan komentarnya tentang pemberitaan terkait perkiraan UMP DIY yang terendah se-Indonesia.

“Dengan upah segitu buat nyicil apartemen yang lagi marak dibangun di kota Jogja nggak bisa dapat, mau beli tanah dan bikin rumah kalau pendapatannya segitu pasti kelarnya juga puluhan tahun jadinya. Tep kudu golek mertua sek sugih ben aman dan nyaman,” tulisnya.

Komentar lain juga dilontarkan pemilik akun berinisial NA, diketahui dari akunnya dia berusia 29 tahun, bekerja sebagai IRT dan reseller hijab, sudah berkeluarga, dan memiliki dua anak balita.

”Di sisi lain Jogja digembor-gemborkan sebagai provinsi yang nyaman sebagai tempat pensiun. Hal ini secara tidak langsung membuat harga tanah melambung tinggi. Bagi para pekerja dengan gaji berkali-kali lipat dari UMP DIY, tentu nyaman-nyaman saja beli tanah di Jogja. Tapi apa kabar dengan pekerja gaji UMP?,” tulis di perempuan asal Bantul itu.

Masih dengan keprihatinan yang sama, pemilik akun berinisaial AR juga membabar pengalamannya kepada warganet selama bekerja di Jogja.

”Buat yang pengen kerja di Jogja, ngingetin aja UMP segitu pun masih banyak tempat kerja yang gajinya nggak sesuai sama UMP. Sangat banyak,” tulis pria berusia 26 tahun itu.

Baca juga: Sebelum Resmi Dihapus, Ujian Nasional Memang Dicap Bikin Stres