KAGAMA.CO, WASSENAAR – Hari Kamis, 6 September 2018, di kediaman Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, di Wassenaar, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja menggelar acara Resepsi Diplomatik sebagai salah satu rangkaian kegiatan peringatan Kemerdekaan RI ke-73. Tema yang diangkat dalam acara Resepsi Diplomatik adalah Keberagaman.

Diapit Mister dan Miss Indonesia 2017, Miquel Sijbers dan Nike van der Velde, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja membuka acara dengan sambutan singkat.

“Saya didampingi Mister dan Miss Indonesia, sebagai simbol kekuatan dari keberagaman, dan juga bukti dua budaya yang berdampingan, Indonesia dan Belanda,” kata Duta Besar Wesaka Puja.

“Selain merayakan kemerdekaan dan keberagaman, acara ini juga diselenggarakan untuk merayakan persahabatan antara Indonesia dan Belanda,” ujarnya.

Kepada para tamu, Duta Besar Wesaka Puja juga mengungkapkan rasa bangga rakyat Indonesiayang telah sukses menyelenggarakan Asian Games 2018 beberapa waktu lalu.

Karena keberhasilan itu, Indonesia memiliki landasan kuat untuk menawarkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

Alunan lagu-lagu lawas Indonesia yang dibawakan grup musik Krontjong Toegoe mampu menghibur pengunjung. Foto : KBRI Den Haag
Alunan lagu-lagu lawas Indonesia yang dibawakan grup musik Krontjong Toegoe mampu menghibur pengunjung. Foto : KBRI Den Haag

Duta Besar Wesaka Puja memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan restoran-restoran Indonesia yang ada di Belanda.

Sebagai bentuk peringatan HUT RI ke-73, KBRI Den Haag menerbitkan buku 73 Favourite Indonesian Restaurants in the Netherlands.

“Jika Anda pulang nanti, silakan ambil buku tersebut. Saya berharap Anda dapat mengunjungi salah satunya,” katanya.

Usai memberikan sambutan, Duta Besar Wesaka Puja mempersilakan para tamu untuk menikmati berbagai hidangan khas Indonesia yang disediakan seperti soto ayam, gado-gado, kambing guling, serta aneka sate ayam, kambing, dan udang.

Tak ketinggalan, es teler, aneka jamu, teh asli Indonesia, bir Bintang, juga jajanan Indonesia, seperti dadar gulung, lumpia, dan lapis legit.

Sambil menikmati hidangan, para tamu dihibur dengan persembahan musik dari kelompok Krontjong Toegoe.

Sebagai rangkaian kegiatan kemerdekaan RI ke-73, Resepsi Diplomatik ini juga disponsori oleh berbagai perusahaan, antara lain Damen, BNI, Garuda, PT Lis International, Van Oord, The East, Pipiltin, Polygon, dan lainnya.

“Suasananya menyenangkan sekali, ya. Saya selalu merasa seperti berada di rumah sendiri tiap kali datang ke sini,” kata Simon Boon, Presiden Gelre Association International, sebuah yayasan di Kota Apeldoorn dengan fokus pada kerja sama budaya, bisnis, dan kemitraan internasional.

Simon, yang sudah empat kali hadir di acara Resepsi Diplomatik, memuji hidangan yang disuguhkan sore itu.

“Enak sekali, saya tadi makan sate dan gado-gado. Saya sangat suka makanan Indonesia,” katanya lagi.

Kecintaannya terhadap makanan khas Nusantara hingga dia mendorong sang istri untuk mengikuti kursus memasak makanan Indonesia.

“Sekarang saya bisa sering-sering makan makanan Indonesia hasil masakan istri,” ujar Simon sambil tersenyum lebar.

Sementara Xenia Blair, dari Utrecht, mengaku sangat menikmati hidangan sore itu.

“Saya sudah mencicipi banyak makanan di sini,” kata Xenia, dengan Bahasa Indonesia yang lancar.

Sore itu, Xenia begitu cantik mengenakan kebaya Bali berwarna biru dengan selendang kuning melingkar di pinggangnya.

“Makanannya enak-enak. Sekarang saya mau makan sate,” katanya.

Sambil bergegas menuju tenda aneka sate, Xenia berkata lantang, “Saya cinta sekali dengan Indonesia!”

Ada lebih dari 850 tamu undangan hadir terdiri atas kalangan korps diplomatik, pejabat berbagai institusi pemerintah Belanda, mitra kerja organisasi internasional, pers, serta para Indonesianist.

Di antara para tamu, hadir pula tokoh-tokoh penting politik Belanda, anggota parlemen, dan senat.

Diantaranya, Menteri Luar Negeri Belanda dalam Kabinet Balkenende II dan III Ben Bot, Presiden Senat Belanda Ankie Broekers-Knol, Sekretaris Jenderal Senat Belanda Geert Jan Hamilton, Direktur Jenderal Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) Fernando Arias, Walikota Den Haag Pauline Krikke, dan Walikota Zundert Lenny Poppe-de Loff.

 

Sumber : KBRI Den Haag