Sambil menyantap sajian tumpeng, para hadirin juga disuguhi penampilan kesenian seperti tari dan musik. Menurut Koordinator Dhahar Kembul Widihasto Wasana Putra, acara ini memang menyasar kalangan muda. Baginya praktik berpancasila bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti duduk makan bersama atau bergotong royong.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan penggalangan dana untuk korban bencana gempa bumi di Bali dan Lombok, NTB. Hasto menuturkan bahwa warga Jogja juga punya pengalaman yang sama mengenai bencana alam. Hal ini membuatnya tergerak untuk melakukan penggalangan dana. Ada 17 kotak donasi yang di sebar malam itu.

MB UGM turut memeriahkan acara.(Foto: Dok. Fazrin)
MB UGM turut memeriahkan acara.(Foto: Dok. Fazrin)

Hasto tak menduga animo masyarakat ternyata lebih dari ekspektasinya. Awalnya hanya ditargetkan 150 tumpeng yang terkumpul. Ternyata malah terkumpul lebih dari dua kali lipatnya.

Ia menambahkan, hari lahir Pancasila menjadi momentum yang penting untuk merawat Pancasila di tengah ancaman radikalisme, intoleransi dan terorisme. “Kami berharap semangat gegap gempita untuk terus menggelorakan nilai-nilai Pancasila ini terus tumbuh di Yogyakarta,” ucapnya.