KAGAMA.CO, JAKARTA – Saat ini dunia sudah memasuki era revolusi industri 4.0, suatu era dimana terjadi otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik yang mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, hingga komputasi kognitif. Dunia industri Indonesia harus menyiapkan diri mulai dari sumber daya manusia, infrastruktur serta teknologi media telekomunikasi, regulasi dari pemerintah yang dapat melindungi industri dalam negeri, hingga menggeser orientasi industri dari manufaktur ke sektor jasa.

Itulah beberapa poin yang mengemuka dari acara Bincang Bincang KAFEGAMA yang bertema “Kontribusi Revolusi Industri 4.0 Mendorong Perekonomian” dimoderatori oleh Muhammad Ade Irfan dan digelar di Kafe Madame Delima, Jakarta, Selasa malam (8/5/2018).

Tampil sebagai pembicara pertama, Dr Doddy Rahadi, Direktur Industri Logam Berat Kementerian Perindustrian, mengungkapkan bahwa dunia industri Indonesia mesti memanfaatkan peluang bisnis yang tercipta di era revolusi industri 4.0.

“Selain tantangan, revolusi industri 4.0 membuka peluang bagi para pelaku bisnis di Indonesia untuk meraih keuntungan yang nilainya dapat mencapai miliaran dolar AS. Lihat apa yang dirah Amazon dan Alibaba, dan startup lokal yang memasarkan barang dan jasa di Tanah Air juga bisa mendapatkan keuntungan yang sama,” papar Dody.

“Agar bisa berkompetisi, Indonesia perlu menyiapkan teknologi media telekomunikasi hingga infrastruktur yang menunjang otomasi digital,” ungkapnya.

Praktisi bisnis, Suryo Suwignjo, menilai penguasaan dan kemampuan mengolah data serta informasi pasar punya peran vital agar pebisnis bisa sukses di era industri 4.0.

“Kami pernah melakukan survei pasar sebelum merilis produk rice cooker. Kami melakukan survei terhadap ibu-ibu untuk mengetahui selera mereka mengenai rice cooker. Survei itu kami lakukan selama beberapa bulan dan di beberapa tempat. Kami pun mengeluarkan dana hingga miliaran rupiah untuk keperluan survei tersebut,” papar Suryo yang juga menjababat sebagai CEO PT Philips Indonesia.

Butuh Regulasi dan SDM Terdidik

Suryo pun mengingatkan ada beberapa hal krusial yang perlu dibenahi agar dunia bisnis di Tanah Air bisa sukses di era industri 4.0, yakni regulasi pemerintah yang belum mendukung terciptanya iklim bisnis yang kondusif, minimnya sumber daya manusia yang terdidik, dan hingga perlunya pemerintah mendirikan inkubasi-inkubasi yang bisa melahirkan para entrepreneur atau startup baru.

Sementara Heru Dewanto, CEO Cirebon Power Plan, mengungkapkan bahwa pemerintah perlu memikirkan mitigasi dari efek samping revolusi 4.0 yang bergerak ke arah otomasi digital, artificial intelligence, hingga advance robotic.

“Pasalnya, nantinya otomasi digital, AI, dan robot akan banyak berperan sehingga hanya dibutuhkan sedikit tenaga kerja manusia, sedangkan tenaga kerja di Indonesia berlimpah. Pemerintah perlu memikirkan strategi untuk menyerap tenaga kerja yang ada agar tingkat pengangguran bisa ditekan,” cetus Heru.

Di sisi lain pengamat ekonomi Hendri Saparini mengemukakan bahwa pemerintah mesti segera membuat regulasi yang melindungi industri kreatif atau startup di Tanah Air.

“Tanpa regulasi yang pasti dan berpihak pada kepentingan dalam negeri maka bakal banyak startup atau industri kreatif kita akan akan dibeli dan diambilalih pihak asing, bukan saja perusahaannya tapi juga sumber daya manusianya,” papar Hendri.

Dia juga mengemukakan, dunia industri di Indonesia juga mesti berani mengubah orientasi bisnisnya dari industri barang atau manufaktur menjadi industri jasa. Jepang, menurut Hendri, sudah melakukan hal tersebut.

“Sumber daya manusia di Indonesia berlimpah dan kreatif yang mampu mendukung industri jasa tersebut. Kita dapat melakukan hal yang sama seperti Jepang, yakni beralih dari sektor manufaktur ke sektor jasa,” pungkasnya.

Acara diskusi berlangsung serius tapi santai dihadiri oleh sekitar 25 orang. Setelah acara diskusi, Dekan FEB UGM Dr Eko Suwardi M Sc memberikan cinderamata kepada para pembicara dan acara dilanjutkan dengan makan malam serta ramah tamah. (jos)