Menyantap Tongseng Legendaris Khas Bantul Tanpa Khawatir Darah Tinggi dan Kolesterol

155
Tongseng Ayam Kampung Sudimoro berdiri sejak 1967. Foto: Jogjaempatroda
Tongseng Ayam Kampung Sudimoro berdiri sejak 1967. Foto: Jogjaempatroda

KAGAMA.CO, BANTUL – Kabupaten Bantul bisa dibilang menjadi pusatnya kuliner lokal dengan harga terjangkau. Meskipun demikian, rasanya tak kalah lezat dengan kuliner yang harganya lebih mahal.

Bagi penggemar tongseng, di kawasan Bantul terdapat satu warung makan yang wajib dikunjungi, yaitu Tongseng dan Gulai Ayam Kampung Sudimoro.

Sesuai dengan namanya, warung yang terletak di Jalan Sudirman 2, selatan Pasar Bantul, ini menyediakan menu utama tongseng dan gulai ayam. Menu tongseng menjadi menu favorit para pembeli.

Sebagian orang beranggapan tongseng selalu identik dengan daging kambing. Jika digantikan dengan daging lain, para penggemar tongseng akan sulit menikmati.

Namun, hadirnya Tongseng dan Gulai Ayam Kampung, menepis anggapan tersebut. Setiap jam makan siang, warung selalu ramai didatangi pembeli dari Bantul maupun dari luar Bantul yang tidak sabar menyantap sedapnya tongseng ayam kampung.

Tongseng Ayam Kampung Sudimoro berdiri sejak 1967. Foto: Travelingyuk
Tongseng Ayam Kampung Sudimoro berdiri sejak 1967. Foto: Travelingyuk

Baca juga: Apresiasi Dubes Salman Al Farisi kepada Diaspora Pejuang Kuliner Indonesia di Afrika Selatan

Warung tongseng ini hampir tidak pernah sepi pembeli dan terkadang meninggalkan antrean yang cukup panjang. Hampir semua pembeli yang datang memenuhi tempat duduk yang disediakan.

Tongseng dimasak dengan cara tradisional, yaitu dengan anglo dan arang maupun dimasak dengan cara yang modern, yakni dengan kompor gas.

Menariknya, tongseng dan gulai baru dimasak saat sudah dipesan. Jadi, kamu berkesempatan menikmati sarapan atau makan siang dengan lauk yang masih fresh.

Terdapat sekitar 10 potong daging ayam dalam satu porsi tongseng. Potongan daging tersebut disiram dengan kuah kuning kecoklatan yang khas.

Kuah tongseng ayam Kampung Sudimoro ini dominan rasa manisnya dan kuat akan bumbu ladanya, sehingga akan sedikit membakar “tenggorokkanmu” setelah melahapnya.

Baca juga: Jebolan FEB UGM Ini Sebut Pembangunan Desa Penting untuk Kurangi Kemiskinan