Menuju Indonesia Emas, Hendri Saparini Dorong Reformasi Ekonomi yang Adil

140
Ekonom UGM sekaligus Founder Core Indonesia, Dr. Hendri Saparini menyampaikan gagasannya terkait reformasi ekonomi menuju Indonesia Emas. Foto: Dodhi/KAGAMA
Ekonom UGM sekaligus Founder Core Indonesia, Dr. Hendri Saparini menyampaikan gagasannya terkait reformasi ekonomi menuju Indonesia Emas. Foto: Dodhi/KAGAMA

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Berbagai negara di luar Indonesia tidak hanya mengembangkan ekonomi di level rata-rata. Tetapi, juga melakukan lompatan-lompatan yang membuat ekonomi semakin kuat.

Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom UGM sekaligus Founder Core Indonesia, Dr. Hendri Saparini dalam diskusi bertajuk 75 Tahun Merdeka, Saatnya Reformasi Ekonomi, yang digelar oleh Core Indonesia, pada Jum’at (21/8/2020) secara daring.

“Untuk menjadi negara maju, semua negara harus membuat lompatan. Ada periode dimana ekonomi kita harus tumbuh tinggi untuk mencapai pendapatan perkapita yang tinggi, serta memangkas kesenjangan,” jelasnya.

Data yang dihimpun Hendri menunjukkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin turun. Tahun 1990-an pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat meningkat 7 persen, berkat industri manufaktur yang tumbuh tinggi.

Sementara saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru turun menjadi 5 persen, bahkan di bawahnya. Menurut Hendri, ini menjadi PR besar untuk membangkitkan kembali tren pembangunan yang positif di tengah misi pemerintah yang sedang berusaha memajukan negara.

Baca juga: Bisnis Peternakannya Jatuh Tersungkur, Ketua KAGAMA Kediri Ini Bangkit Berkat Petuah Ibunda

“Penduduk yang sejahtera secara ekonomi juga masih relatif kecil jumlahnya. Hanya ada 30 persen penduduk Indonesia yang tergolong sebagai kelas menangah, 70 persen tergolong penduduk miskin,” ujar perempuan kelahiran 1964 ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5 persen, kata Hendri, berbasis pada konsumsi rumah tangga.

Namun, perlu diketahui, kelompok masyarakat ekonomi ke bawah memiliki tingkat pengeluaran yang sangat rendah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini ditopang oleh masyarakat ekonomi ke atas.

“Kesenjangan ekonomi ini juga menjadi PR bagi Indonesia. Selama ini kita fokus pada indikator-indikator pembangunan seperti inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi stabil di angka 5 persen, dan sebagainya. Ini sebuah pergeseran paradigma. Padahal ini bukan ukuran yang seharusnya kita capai,” tuturnya.

Hendri berujar, kita semua ingin negara mencapai keberhasilan di usia emasnya tahun 2045 mendatang. Hendri menegaskan masih ada waktu 25 tahun lagi untuk memperbaiki diri.

Baca juga: HUT ke-75 RI, Menteri Basuki Sampaikan Pesan Moral dengan Gebuk Drum bersama Iwan Fals