YOGYAKARTA, KAGAMA – Partisipasi aktif perempuan diperlukan dalam upaya penataan lingkungan. Mengingat, terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan potensial muncul akibat penataan kampung dan lingkungannya yang buruk. Penyediaan fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus) di pinggir sungai misalnya, juga memicu timbulnya korban kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia  Yohana Susana Yembise mengungkapkan hal itu, Sabtu (10/6/2017) sore di Kampung Code Riverside, Jetis, Yogyakarta. Pada  kesempatan itu Menteri Yohana meresmikan Sekolah Srikandi Sungai Indonesia. Selain itu, diresmikan pula program Woman in River Edupark.

Acara tersebut dihadiri antara lain, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Suratman, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY, dr. R. A. Arida Oetami, M. Kes., dan Ketua Pemerti Code, Totok Pratopo. Dalam kesempatan itu Yohana juga mengapresiasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah melaksanakan program pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dengan memberdayakan perempuan.

Menteri Yohana menjelaskan, saat ini dunia secara resmi telah memberlakukan Suistainable Development Goals (SDGs). Dalam SDGs, lanjut Yohana, aspek lingkungan dinyatakan sebagai salah satu di antara enam elemen esensial, meliputi planet, people, dignity, prosperity, justice, dan partnership. Dengan demikian, dapat dilihat keeratan hubungan antara manusia dan planet (bumi) untuk tercapainya kesejahteraan dan keadilan.

Selanjutnya, terkait gender, menurut Yohana, Indonesia telah secara aktif menyampaikan pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Aktivitas tersebut dilakukan dalam berbagai kebijakan terkait perubahan iklim yang diatur melalui kerangka konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Kegiatan Woman in River Edupark merupakan implementasi dari Education for Suistanaible Development (ESD).

Menteri Yohana mengapresiasi beragam seni kerajinan hasil kreativitas Srikandi Sungai Indonesia melakukan kegiatan pembuatan kerajinan berbahan sampah daur ulang (Foto Dok. Humas UGM)
Menteri Yohana mengapresiasi beragam seni kerajinan hasil kreativitas Srikandi Sungai Indonesia melakukan kegiatan pembuatan kerajinan berbahan sampah daur ulang (Foto Dok. Humas UGM)

“Karena itu, menurut saya, perempuan sangat perlu terlibat dalam menyukseskan SDGs dan ikut dalam penataan lingkungan,” cetusnya.

Srikandi Sungai Indonesia

Pasca-Kongres Sungai Indonesia pertama pada 2015, Prof. Dr. Suratman menggagas Srikandi Sungai Indonesia. Anggotanya terdiri dari perempuan yang peduli terhadap lingkungan sungai. Kegiatan yang dilakukan Srikandi Sungai Indonesia, di antaranya edukasi, kampanye, pelatihan, dan pendampingan. Srikandi Sungai Indonesia juga melakukan kegiatan pengolahan sampah dan membuat kerajinan berbahan sampah daur ulang.

Sementara itu, program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Woman in River Edupark merupakan program yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UGM bersama Pusat Studi Wanita UGM. Salah satu konsep Woman in River Edupark adalah pembuatan taman edukasi tanaman obat. Hasil produksi tanaman obat itu nantinya akan difermentasikan sehingga menjadi olahan yang bermanfaat.

Prof. Dr. Suratman mengatakan, Srikandi Sungai Indonesia adalah satu bentuk tugas negara. Yakni, mengajak semua untuk peduli terhadap edukasi, air, dan sanitasi. “Dari sungai kita alirkan edukasi hingga mengalir ke seluruh dunia,” ujarnya menandaskan. [Humas UGM/Catur/rts]