KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Permasalahan mengenai kesetaraan gender terus berulang dan bertambah di setiap tahunnya. Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof Dr. Yohana Susana Yembise, Dip. Apling., MA.

Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Gender Equality dalam Era Digital Innovation di Indonesia

” di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi, UGM pada Jumat (09/11/2018).

Sebelumnya, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan (PPK) UGM Prof. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M. Agr. memberikan sambutan. Menurutnya, masih ada kampus yang memberi pembatasan kuota studi bagi perempuan.

Alasannya adalah perempuan yang telah lulus kuliah kebanyakan tidak melanjutkan kariernya, sehingga dikhawatirkan akan memutus hubungan antara almamater dengan lapangan pekerjaan.

“Akan tetapi, pembatasan kuota studi perempuan ini tidak terjadi di UGM yang telah memiliki prinsip kesetaraan gender,” kata Jagal.

Senada dengan Jagal, Menteri Yohana juga menyampaikan bahwa jumlah mahasiswi jauh lebih besar daripada mahasiswa. Meskipun demikian, angka partisipasi kerja perempuan masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan laki-laki.

“Mahasiswi biasanya lari ke sektor domestik. Padahal biaya kuliah yang dikeluarkan oleh orang tuanya cukup besar,” ungkapnya.

Menteri Yohana juga menyayangkan pilihan mahasiswi yang lebih banyak ke sektor domestik karena Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Jika perempuan yang jumlahnya banyak ini tidak memberikan banyak kontribusi, maka Indonesia kesulitan untuk merasakan manfaat dari adanya bonus demografi.

Ia juga berpesan bahwa perempuan harus bisa mengangkat martabatnya, salah satunya dengan cara menggunakan ilmu yang didapatkan untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat.(Tita)