BULAKSUMUR, KAGAMA – Internet bisa menjadi sumber hilangnya nilai-nilai Pancasila. Sebagai media komunikasi virtual, internet secara masif bisa menggerus nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda Indonesia yang juga pengguna internet aktif.  Anak-anak muda yang pasti dihadapkan pada dunia lain perlu dikenalkan dengan Pancasila.

Menteri Sekretaris Negara Prof. Dr. Pratikno, M. Soc., Sc. mengungkap fenomena masifnya nilai-nilai liberal melalui internet yang potensial menggerus nilai-nilai Pancasila di kalangan anak muda dan bangsa Indonesia. Menurut mantan Rektor UGM ke-14 (2012-2014), nilai-nilai Pancasila perlu dikemas dengan konten serta metode yang menarik, khususnya dengan melibatkan anak muda. Generasi muda harus didorong untuk memperdalam dari hasil forum diskusi atau kajian nilai Pancasila tapi dikemas sesuai  pasar

“Kita harus merebut, mahasiswa, santri, siswa, agar menjadi anak didik kita. Jangan jadi anak didik orang lain. Mereka punya pilihan dan kita harus memenangkan di antara banyak pilihan. Konten kita kontrol tapi method of delivery harus diolah,” ucap Pratikno saat menyampaikan keynote speech dalam Sarasehan Forum Dewan Guru Besar, Sabtu (19/8/2017) di Balai Senat UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

Prof. Drs Koentjoro, M. Bsc., Ph. D. (Foto Desti/KAGAMA)
Prof. Drs Koentjoro, M. Bsc., Ph. D. (Foto Desti/KAGAMA)

Generasi muda usia antara 10 hingga 34 tahun, lanjut Pratikno, sebagian besar pengguna internet. Posisi mereka jika tidak memberikan pesan maka mereka akan mendengarkan pesan orang lain. Dunia maya esensinya untuk mencari pengikut. Ada yang mencapai ribuan hingga jutaan memberi konten tidak baik. Karenanya, diperlukan sinergi bersama antara mahasiswa dan santri bekerjasama untuk membuat konten menarik tentang Pancasila.

Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. menggarisbawahi Pancasila sebagai solusi dalam diskusi agama atau nonagama. Semua golongan terangkum serta menampung semua kepentingan.

“Pancasila sering mendapat ujian, berkali-kali terjadi pemberontakan, meyakini Pancasila yang cocok untuk keadaan bangsa yang plural. Diharapkan melalui dialog ada pemikiran yang lebih baru, penguatan nilai Pancasila di berbagai era,” ujarnya.

Sekretaris  Dewan Guru Besar UGM Prof. Drs Koentjoro, M. Bsc., Ph. D. mengatakan Sarasehan Forum  Dewan Guru Besar mengangkat tema “Pancasila, Agama, dan Budaya” dengan subtema “Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa, Tinjauan Lintas Agama.” Sarasehan digelar diawali dari kerisauan dan keprihatinan, karena saat ini keadaan sosial-politik sedang banyak konflik. Sehingga Dewan Guru Besar UGM berikhtiar mengantisipasi agar jangan sampai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an menjadi hilang semangatnya.  Dari sarasehan diharapkan dengan berbagai perbedaan yang ada di Indonesia harus dijaga dan jangan diperuncing. Universitas (UGM) melalui para guru besar ingin memulai merumuskan implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

“Setelah pleno akan dibagi menjadi dua komisi. Pertama, Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai pandangan hidup. Kedua, pengembangan ilmu dan agama yang bermuara pada Pancasila sebagai pemersatu bangsa,” ucap Prof Koentjoro.

Acara sarasehan menjadi rangkaian kegiatan untuk melihat nilai Pancasila dari berbagai sudut pandang. Dimulai Sabtu (19/8/2017) melihat dari sudut pandang lintas agama bersama enam pemuka agama. Selanjutnya, akan mengambil perspektif raja-raja nusantara. Pada puncak acara,  Forum Guru Besar mendeklarasikan  implementasi nilai Pancasila dalam ranah pendidikan ataupun hidup bermasyarakat. [Desti]