Menjemput Rezeki Lewat Uang Baru

9
Satu minggu menjelang hari raya hingga H+1, berbagai jasa penukaran uang sudah melapak di sepanjang jalan raya. Foto: Sirajuddin
Satu minggu menjelang hari raya hingga H+1, berbagai jasa penukaran uang sudah melapak di sepanjang jalan raya. Foto: Sirajuddin

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Ada banyak budaya yang lahir dan berkembang di Indonesia.

Salah satu budaya yang berkembang ketika di akhir bulan Ramadan adalah membeli pakaian baru dan menukar uang baru.

Hampir dipastikan bahwa setiap orang memiliki uang baru ketika hari raya tiba.

Baik itu hasil dari penukaran di bank, maupun dari silarurahmi di rumah tetangga.

Bagi yang sudah bekerja atau sudah dewasa, menukar uang dilakukan untuk mereka berikan kepada anak-anak kecil ketika berkumpul dengan sanak keluarga.

Adapun bagi anak kecil, uang baru merupakan suatu pencapaian yang wajib ketika hari raya tiba.

Mereka berduyun-duyun ke rumah warga untuk bersilaturahmi sekaligus mendapat uang jajan dari sang empunya rumah.

Dan di akhir ramadan ini, fenomena ini sudah mulai tampak.

Satu minggu menjelang hari raya hingga H+1, berbagai jasa penukaran uang sudah melapak di sepanjang jalan raya.

Mereka adalah bank keliling yang memberikan jasa penukaran uang baru bagi orang-orang yang tidak sempat ke bank atau sedikit malas untuk antre di bank.

Wagiman (46) merupakan salah satu penjual jasa tukar uang yang sudah siap melayani penukaran uang baru bersama istrinya di depan Taman Pintar, Yogyakarta.

Ia mengaku sudah mulai berjualan 6 hari sebelum hari raya.

“Saya sudah buka 6 hari yang lalu. Saya bergantian dengan istri jaganya,” terangnya kepada KAGAMA, belum lama ini.

Wagiman sudah siap membuka lapak sedari pukul 10.00 pagi hingga 16.00 sore hari.

Bersama beberapa temannya, Wagiman sudah mempersiapkan momen ini jauh-jauh hari.

Karena lewat ini pula ia dapat mendulang keuntungan guna kebutuhan di hari raya.