Menjaga Imaji Affandi, Tentang Kemanusiaan dan Keindonesiaan

80
Affandi memang telah tiada sejak mengembuskan napas terakhir pada 23 Mei 1990. Namun, keindahan ribuan lukisan Affandi tetap mengabadi untuk dinikmati. Dalam buku ini, Gus Nas mencoba menghadirkan sosok Affandi berdasarkan sisi kemanusiaan dan keindonesiaan. Foto: Taufiq Hakim
Affandi memang telah tiada sejak mengembuskan napas terakhir pada 23 Mei 1990. Namun, keindahan ribuan lukisan Affandi tetap mengabadi untuk dinikmati. Dalam buku ini, Gus Nas mencoba menghadirkan sosok Affandi berdasarkan sisi kemanusiaan dan keindonesiaan. Foto: Taufiq Hakim

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Affandi memang telah tiada sejak mengembuskan napas terakhir pada 23 Mei 1990.

Namun, keindahan ribuan lukisan Affandi tetap mengabadi untuk dinikmati.

Sosok Affandi yang fenomenal di dunia seni membuat banyak orang mencoba mengulas dan menerjemahkan karya-karya sang maestro kelahiran Cirebon tersebut.

Salah satunya Popo Iskandar, yang menjajal memahami Affandi lewat buku biografi berjudul Dari Sebelah Barat  terbitan Akademi Jakarta pada 1977.

Di buku itu, Popo menerangkan Affandi dari sisi kesenian.

Sementara itu, Ajip Rosidi, Zaini, dan Sudarmadji, melalui Dewan Kesenian Jakarta, menerbitkan Affandi 70 Tahun pada 1978.

Beberapa tokoh memberi kesaksian dalam buku tersebut untuk mengenang usia ke-70 tahun Affandi.

Bersama keluarga Affandi dan buku 'Menjaga Imaji Affandi'. Foto: Istimewa
Bersama keluarga Affandi dan buku ‘Menjaga Imaji Affandi’. Foto: Istimewa

Baca juga: Kagama Berau Sumbang Gagasan untuk Inkubasi Bisnis dan Kegiatan Sosial

Dua judul di atas merupakan contoh dari sekian buku yang ditulis dengan sudut padang Affandi dan karya-karnyanya.

Namun, sudut pandang lain hadir dalam buku Menjaga Imaji Affandi yang ditulis oleh HM Nasruddin Anshoriy Ch (Gus Nas).

Menjaga Imaji Affandi diproduksi oleh Kemendikbud RI, yang berkolaborasi dengan Museum Affandi dan Penerbit Desa Kebangsaan Ilmu Giri.

Dalam buku ini, Gus Nas mencoba menghadirkan sosok Affandi berdasarkan sisi kemanusiaan dan keindonesiaan.

Dua sisi tersebut dibabar Gus Nas lewat lima bab dengan total halaman berjumlah 204.

Pada bab pertama, Affandi dan Imaji Diri, dijelaskan  tentang kelahiran sang teekenar (Bahasa Belanda: tukang gambar) hingga akhir hayatnya.

Salah satu poin menarik di bab ini adalah penjabaran tentang mengapa Affandi kerap melukis potret dirinya sendiri sejak awal proses kreativitasnya muncul, sekitar 1930-an.

Baca juga: Penyakit Antraks Menjalar di Gunungkidul, Begini Gejala dan Penanganannya