Menikmati Kolaborasi Musik Gamelan dan Masa Kini ROAR GAMA 4.0

69
Gamelan bukan sesuatu yang dulu ada, kemudian dilestarikan. Gamelan ada di setiap zaman. Dia menciptakan zamannya sendiri. Foto: istimewa
Gamelan bukan sesuatu yang dulu ada, kemudian dilestarikan. Gamelan ada di setiap zaman. Dia menciptakan zamannya sendiri. Foto: istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pertunjukan kolaborasi musik nusantara dan musik masa kini, hadir dalam Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0), yang digelar pada Sabtu (30/11/2019) di Lapangan Pancasila UGM.

Salah satu mitra kreatif ROAR GAMA 4.0, Ari Wulu mengatakan, kolaborasi tersebut penekanannya ada pada mengelola anak muda dengan kebudayaannya.

Dia menjelaskan, pagelaran ini sebetulnya tidak ditampilkan sebagai sebuah rapertoar secara utuh.

“Misalnya ada lima kelompok musik yang membawakan lagu-lagu populer di kalangan anak muda hari ini. Kemudian dibubuhkan aransemen gamelan murni ke dalam musiknya,” jelas Ari Wulu.

Dia menjelaskan, komposisi musik tersebut bukan sesuatu hal yang baru.

Musik-musik anak muda tersebut dibawakan dengan aransemen orkestrasi gamelan.

Acara dibuka oleh penampilan gendhing-gendhing klasik gamelan dari grup Sospolaras dan Gamasutra Sastra Jawa UGM.

Gamelan bukan sesuatu yang dulu ada, kemudian dilestarikan. Gamelan ada di setiap zaman. Dia menciptakan zamannya sendiri. Foto: istimewa
Gamelan bukan sesuatu yang dulu ada, kemudian dilestarikan. Gamelan ada di setiap zaman. Dia menciptakan zamannya sendiri. Foto: istimewa

Baca juga: Jadi Lulusan Terbaik FIB, Riya: Keluarga, Dosen dan Para Sahabat Selalu Memberikan Semangat

Mantra Vutura merupakan band yang pertama tampil.

Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tashoora, Letto, FSTVLST.

Lalu terakhir ditutup oleh penampilan dari OM New Pallapa.

“Empat band yang tampil di awal masing-masing melambangkan perihal yang berbeda. Misalnya Mantra Vutura, mereka adalah grup musik elektronik dari Jakarta dan anggotanya masih muda-muda. Ini mencerminkan mimpi, harapan, dan hal-hal lain yang futuristik,” ujar Ari wulu.

Kemudian Tashoora, diibaratkan Ari Wulu sebagai band yang berada di tingkatan remaja.

Musik-musik Tashoora, kata Ari Wulu, berisi ungkapan kecemasan dan suka mengkritik, layakanya anak remaja.

Ada lagi FSTVLST, diibaratkan sebagai anak muda juga, tetapi tampil dengan musik-musiknya yang beringas, punya tekad, dan sudah punya harapan di masa depan.

Baca juga: Lulusan Terbaik FK-KMK, Dennis: Kopi Teman Terbaik Saya