Menghidupkan Cita-Cita Ala Prof. Agus Pramusinto

329
Saya berangkat dari segala keterbatasan, saya meyakini bahwa hanya pendidikan yang dapat mengubah nasib saya waktu itu.(Foto: Maulana)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menjadi pendidik seperti guru dan dosen adalah cita-cita mulia yang sudah diminati oleh banyak orang sejak dulu.

Tak terkecuali Prof. Agus Pramusinto, Drs., MDA., Ketua Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM.

Motivasi ini timbul lantaran melihat dosen pengajarnya sering melakukan kunjungan ke luar negeri untuk keperluan pembelajaran.

“Saya punya cita-cita untuk menjadi dosen. Karena waktu pertama saya masuk, banyak sekali dosen yang sering keluar negeri,” ungkap lelaki kelahiran Pemalang 59 tahun silam ini kepada Kagama, belum lama ini.

Hal tersebut kemudian mendorongnya untuk bisa berbahasa Inggris. Namun hidup dengan keterbatasan  tidak memungkinkannya untuk mengambil kursus.

Ia kemudian harus mencari cara lain untuk tetap belajar bahasa Inggris secara mandiri.

Sejak menjadi mahasiswa baru, ia mendorong dirinya untuk membiasakan membaca bacaan berbahasa Inggris tiga halaman setiap hari.

Tidak hanya membaca, ia juga mengharuskan dirinya untuk memahami apa yang sudah ia baca.

“Jadi saya target tiap hari paham tiga halaman buku atau tulisan berbahasa Inggris.”

“Kemudian dari situ saya coba pahami mulai dari struktunya seperti apa, grammarnya bagaimana, vocabularinya apa saja,” jelas dosen yang akrab disapa Pram ini.

Tak hanya mempersiapkan diri dari aspek bahasa, Pram yang akan dilantik menjadi President Indonesian Asosiation for Public Administrator (IAPA) pada November yang akan datang juga mengasah kemampuan berpikirnya melalui bergabung dengan kelompok diskusi dan menulis semasa kuliah.

“saya aktif dikegiatan kelompok diskusi, kemudian saya juga aktif dalam kegiatan penulisan lintas minat,” kenangnya.

Diskusi yang ia ikuti sendiri tidak hanya membahas  isu terkait administrasi publik, namun juga isu-isu politik secara umum yang saat itu masih bergejolak pada era orde baru.

Tak cukup di situ, ia juga aktif mengikuti diskusi yang diadakan oleh berbagai pusat studi, seperti Pusat Studi Kependudukan, seminggu sekali.