Belajar di Bawah Pohon Bulaksumur

Kendati IPK selama kuliah kurang memuaskan, Seno tak mau ambil pusing. “Yang penting lulus. Kalau galau, saya lari ke gunung,” kenangnya.

Selama itu pula Seno tak mau bergantung kepada orang tua. Ia bekerja sambilan sebagai promotor musik untuk menyambung hidup. Meskipun tidak aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa, Seno ramah bergaul dengan siapa saja, dan sering nongkrong di Gelanggang Mahasiswa.

Seno banyak memetik pelajaran dari perannya sebagai pendengar. Ia tak pernah angkat bicara. Sikap dewasa dan keterampilan berpikirnya diakui Seno banyak terasah ketika mengikuti diskusi-diskusi ilmiah, baik formal maupun nonformal di bawah pohon area Bulaksumur.

“Saya akui dengan dibangunnya lembah itu juga kita makin grubyak-grubyuk (ikut-ikutan_red) di situ, saya mengenal tipikal-tipikal ada GMNI, HMI, saya seneng itu. Tapi nggak aktif di sana,” ungkapnya.

Menamatkan kuliah selama 7,5 tahun di Sastra Perancis UGM diakui Seno banyak menyisakan kenangan. Hal itu pula yang membuatnya menyusuri lorong-lorong fakultas di UGM sepulang dari Perancis pada 2000 an silam.

“Nyewa taksi muter tujuh kali. Dua jam lebih. Dalam rangka kangen. Sampai taksinya tak suruh jalan, saya jalan kaki, untuk napak tilas, nostalgia,” kenang penyuka rendang ini.

Seno bercerita, usai merampungkan studi, ia terbang ke Perancis. Seno bekerja sebagai Staf lokal Konsulat Jenderal Indonesia di Marseille, Perancis pada tahun 1992. Kegemarannya menulis sejak SD dan bermain bola juga menghantarkannya menjadi koresponden beberapa media cetak Indonesia di Perancis.