KAGAMA.CO, BOYOLALI – Lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka, rekor pertumbuhan ekonomi selau dipegang oleh kota atau provinsi. Tetapi pada 2016 lalu, di tangan Seno Samodro, Kabupaten Boyolali mengalami pertumbuhan ekonomi yang fantastis.

“Pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia iki mak jegagik (secara mengejutkan_red) itu Kabupaten Boyolali, sebanyak 6,08 persen,” paparnya kepada KAGAMA, belum lama ini di Pendopo Alit, Boyolali.

Selama lima tahun menjadi Bupati, Seno berhasil membalik keadaan. Alumnus Sastra Perancis UGM ’83 ini bercerita, kali pertama menjadi Bupati, pengangguran di Boyolali mencapai 15.000. Dengan jargon “Boyolali Pro Investasi” yang ia kumandangkan, selama lima tahun kepemimpinannya, Boyolali malah kekurangan tenaga kerja.

“Kalau jadi Bupati ya harus all out, tuntas, sehingga masyarakat puas,” tutur Seno yang kini menjabat sebagai Bupati untuk periode yang kedua, 2016-2021.

Pria kelahiran 25 April 1964 ini dikenal lugas, tegas, dan konsisten. Sikap disiplinnya diwarisi dari mendiang ayah, R. Wardojo, seorang pejuang dengan banyak prestasi. Begitupun Seno, banyak penghargaan telah dikantongi selama membuat Boyolali tersenyum, seperti slogan kota di kaki Gunung Merapi-Merbabu ini. Tak heran kesuksesan itu membuat Seno menawarkan supaya Ibu Kota dipindah ke Boyolali.

“Saya tawarkan sepuluh kecamatan di Boyolali,” ujarnya mantap.

Selain itu, seabrek prestasi lain juga diraih kota susu ini. Antara lain meraih penghargaan sebagai Kabupaten Peduli HAM dari Kemenkumham pada 2016, Adipura Kota kecil terbersih sebelas kali berturut-turut, penghargaan lalu lintas dari Kemenhub enam kali berturut-turut, serta satu dari lima daerah se-Indonesia dengan kinerja terbaik dalam penyelenggaraan pemerintahan pada 2017.