“Saya yang tinggal lama di Yogyakarta jarang sekali bepergian, paling jauh hanya ke Madura untuk survei lapangan. Tiba-tiba saja langsung pergi jauh ke Swedia yang istilahnya negeri antah-berantah,” ungkap Agus yang kini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Energi Terbarukan di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika.

Ketika berada di sana, Agus merasa tertantang dan optimis untuk dapat mengembangkan sains-teknologi di Indonesia seperti yang ada di Swedia. Menurutnya, tantangan terbesar ketika menempuh studi di Swedia bukanlah aktifitas perkuliahan, alam, maupun budayanya.

Tetapi ia harus berpisah dari keluarganya di Yogyakarta. Pada kepergian Agus ke Swedia pada 2000, anak pertamanya lahir, sehingga ia harus membagi sebagian uang beasiswanya untuk keluarga di rumah.

Setelah lulus dari masa studi di Swedia, Agus kembali ke Teknik Nuklir dan di luar dugaannya, ia kembali disekolahkan hingga jenjang doktoral. Penggemar berat B.J. Habibie ini pun mendapatkan beasiswa untuk studi dan tinggal bersama keluarga di Australia.

Awalnya ia sempat belajar di University of New South Wales, kemudian pindah ke Curtin University agar lebih fokus pada sistem energi terbarukan.

“Ketika S3, pertanyaan untuk disertasi saya terinspirasi oleh cita-cita saat SD untuk mengaliri listrik ke seluruh wilayah di Indonesia,” pungkasnya.(Tita)