“Ketika menunggu rangkaian seleksi STAID di Nganjuk, saya dapat surat diterima kuliah di UGM,” terangnya.

Akhirnya, Agus memilih untuk kembali ke Jogja dan kuliah di UGM. Namun, ia tetap merasa galau karena belum mendapatkan beasiswa untuk kuliah di UGM, dan kebingunan cara membayar uang kuliah.

Padahal, saat itu uang kuliah di UGM terbilang cukup murah, yaitu kisaran Rp.180 ribu per semester. Masalah tersebut akhirnya dapat diatasi. Agus melakukan pendekatan kepada Dekan hingga Wakil Rektor untuk mendapatkan beasiswa, bahkan ia dibebaskan dari SPP dan dicarikan pekerjaan untuk entri data di Fakultas Kehutanan.

“Ketika bekerja di Fakultas Kehutanan, saya banyak berteman dan terinspirasi dengan dosen yang tengah meniti karier disana,” ungkap Agus.

Selama kuliah, Agus tidak hanya terfokus pada urusan akademiknya saja. Ia bekerja di perusahaan elektrik untuk memenuhi biaya KKN dan menjadi asisten laboratorium, agar dapat lebih memahami ilmu yang didapatnya.

“Saya pikir setelah KKN dan teori kuliah selesai, maka bisa langsung mengerjakan skripsi dan mengambil data di laboratorium. Tapi ternyata tidak demikian, krisis 1998 mendorong mahasiswa untuk melakukan demo, termasuk saya,” kenang Agus.

Pengerjaan skripsi menjadi tertunda dan Agus lagi-lagi harus mencari biaya untuk kebutuhan skripsinya. Kemudian, ia berkesempatan menjadi tenaga pendamping yang diterjunkan di Gunung Kidul.

Akhirnya, Agus dapat lulus sebagai sarjana dari Teknik Elektro pada 1999. Kemudian ia diterima sebagai dosen di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika dan ditugaskan ke Swedia untuk mendalami energi terbarukan.