Mengenal Lebih Dekat Panelis Debat Capres Ahmad Agus Setiawan, Menjadi Pakar Energi Terbarukan untuk Mewujudkan Cita-cita Saat SD

Ahmad Agus Setiawan.(Foto: Maulana)
Ahmad Agus Setiawan.(Foto: Maulana)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Seorang guru SD pernah mengatakan bahwa semua wilayah di Indonesia akan dialiri listrik. Bahkan, Gunung Merapi pun akan terang-benderang dengan lampu-lampu.

Mendengar penjelasan tersebut, seorang murid yang sedari tadi menyimak serius menjadi terheran-heran. Anak tersebut langsung melihat ke arah Gunung Merapi, dan tidak percaya bahwa gunung tersebut dapat dialiri listrik.

Anak tersebut adalah Ahmad Agus Setiawan, yang saat ini menjadi Pakar Sistem dan Perencanaan Energi Terbarukan UGM. Pada Minggu (17/02/2019), berkat kepakarannya, Agus didapuk menjadi panelis Debat Capres Kedua yang mengusung tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

“Ungkapan guru saya selalu terpatri dalam ingatan dan menjadi pertanyaan penelitian untuk menempuh jenjang doktoral,” kenang Agus kepada kagama.co, belum lama ini.

Butuh perjalanan panjang dan berbagai tantangan yang harus Agus tempuh untuk mencapai jenjang doktoral. Dosen peraih Habibie Award 2014 in Engineering from The Habibie Center ini mengaku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dengan kondisi keuangannya yang minim, Agus harus mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.

Ketika masih duduk di bangku SMA, banyak guru-guru yang mengarahkannya untuk melanjutkan pendidikan di STAN, IPDN, dan sekolah kedinasan lainnya. Akan tetapi, ia tetap berpegang teguh pada cita-cita masa kecilnya untuk menjadi insinyur, dan berkecimpung dalam sains-teknologi seperti B.J. Habibie. Untuk mewujudkan cita-citanya, Agus mulai mendaftar program beasiswa Science and Technology for Industrial Development (STAID) dari B.J. Habibie untuk kuliah ke Jerman.

Agus pun mengikuti serangkaian seleksi program beasiswa tersebut di Surabaya. “Nenek saya yang tidak berpendidikan tinggi justru berpesan agar kuliah di UGM saja. Beliau juga memberi tahu bahwa saya akan tetap ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya,” ungkap pria asal Yogyakarta ini.

Agus pun kebingungan karena telah mengikuti serangkaian seleksi STAID, tetapi ia juga telah menyelesaikan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan pilihan Teknik Elektro, UGM.

“Ketika menunggu rangkaian seleksi STAID di Nganjuk, saya dapat surat diterima kuliah di UGM,” terangnya.

Akhirnya, Agus memilih untuk kembali ke Jogja dan kuliah di UGM. Namun, ia tetap merasa galau karena belum mendapatkan beasiswa untuk kuliah di UGM, dan kebingunan cara membayar uang kuliah.

Padahal, saat itu uang kuliah di UGM terbilang cukup murah, yaitu kisaran Rp.180 ribu per semester. Masalah tersebut akhirnya dapat diatasi. Agus melakukan pendekatan kepada Dekan hingga Wakil Rektor untuk mendapatkan beasiswa, bahkan ia dibebaskan dari SPP dan dicarikan pekerjaan untuk entri data di Fakultas Kehutanan.

“Ketika bekerja di Fakultas Kehutanan, saya banyak berteman dan terinspirasi dengan dosen yang tengah meniti karier disana,” ungkap Agus.

Selama kuliah, Agus tidak hanya terfokus pada urusan akademiknya saja. Ia bekerja di perusahaan elektrik untuk memenuhi biaya KKN dan menjadi asisten laboratorium, agar dapat lebih memahami ilmu yang didapatnya.

“Saya pikir setelah KKN dan teori kuliah selesai, maka bisa langsung mengerjakan skripsi dan mengambil data di laboratorium. Tapi ternyata tidak demikian, krisis 1998 mendorong mahasiswa untuk melakukan demo, termasuk saya,” kenang Agus.

Pengerjaan skripsi menjadi tertunda dan Agus lagi-lagi harus mencari biaya untuk kebutuhan skripsinya. Kemudian, ia berkesempatan menjadi tenaga pendamping yang diterjunkan di Gunung Kidul.

Akhirnya, Agus dapat lulus sebagai sarjana dari Teknik Elektro pada 1999. Kemudian ia diterima sebagai dosen di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika dan ditugaskan ke Swedia untuk mendalami energi terbarukan.

“Saya yang tinggal lama di Yogyakarta jarang sekali bepergian, paling jauh hanya ke Madura untuk survei lapangan. Tiba-tiba saja langsung pergi jauh ke Swedia yang istilahnya negeri antah-berantah,” ungkap Agus yang kini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Energi Terbarukan di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika.

Ketika berada di sana, Agus merasa tertantang dan optimis untuk dapat mengembangkan sains-teknologi di Indonesia seperti yang ada di Swedia. Menurutnya, tantangan terbesar ketika menempuh studi di Swedia bukanlah aktifitas perkuliahan, alam, maupun budayanya.

Tetapi ia harus berpisah dari keluarganya di Yogyakarta. Pada kepergian Agus ke Swedia pada 2000, anak pertamanya lahir, sehingga ia harus membagi sebagian uang beasiswanya untuk keluarga di rumah.

Setelah lulus dari masa studi di Swedia, Agus kembali ke Teknik Nuklir dan di luar dugaannya, ia kembali disekolahkan hingga jenjang doktoral. Penggemar berat B.J. Habibie ini pun mendapatkan beasiswa untuk studi dan tinggal bersama keluarga di Australia.

Awalnya ia sempat belajar di University of New South Wales, kemudian pindah ke Curtin University agar lebih fokus pada sistem energi terbarukan.

“Ketika S3, pertanyaan untuk disertasi saya terinspirasi oleh cita-cita saat SD untuk mengaliri listrik ke seluruh wilayah di Indonesia,” pungkasnya.(Tita)