KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Ungkapan itu sudah pernah dialami Prof. Ir. Ali. Agus, DAA., DEA (50) semasa remaja.

Hal itu terjadi saat Agus ingin menyembuhkan seratusan ekor ayam milik orangtua, paman, bibi, dan kakeknya pada 1978. Agus antusias mempraktikkan cara memvaksinasi ayam yang diajarkan gurunya.

Agus yang hobi main ketoprak, merasa sudah menguasai praktik injeksi untuk vaksinasi ayam seperti yang diberikan gurunya di SMP Merdeka di Banjarejo, Blora, Jawa Tengah. Esok paginya, bukannya ayam-ayam yang terkena wabah penyakit Newcastle Disease (ND) itu kembali sehat, justru bergelimpangan mati.

Alhasil, semua kerabatnya pun marah-marah. Mereka mengatakan Agus sebagai dokter hewan gemblung. Pasalnya, seratusan ayam mati semua. Tinggal dua ekor yang masih hidup.

“Saya penasaran, bertanya-tanya, mengapa orang sakit disuntik sembuh, tapi ayam sakit disuntik kok mati. Padahal, saya merasa sudah benar dari yang diajarkan guru saya. Karena itu, tumbuh tekad saya melanjutkan studi di Peternakan. Pilihan saya UGM (Universitas Gadjah Mada) dan UNSOED (Universitas Soedirman). Alhamdulillah diterima di Fakultas Peternakan UGM,” kenang Dekan Fakultas Peternakan UGM diselingi tawa, belum lama ini.