Membangun Bandara yang Lebih Melayani

31
Direktur Utama di PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi ingin menjadikan bandara-bandara di Tanah Air sebagai bandara terbuka dan memiliki akses dengan penerbangan internasional. Foto : Dodhi/KAGAMA
Direktur Utama di PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi ingin menjadikan bandara-bandara di Tanah Air sebagai bandara terbuka dan memiliki akses dengan penerbangan internasional. Foto : Dodhi/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Mengenal lebih jauh sosok Faik Fahmi, orang nomor satu di PT Angkasa Pura I (Persero), salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa kebandarudaraan.

Saat ini PT AP I mengelola 13 bandar udara (Bandara) di wilayah tengah dan timur Indonesia, termasuk Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali yang merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia.

Faik lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada di tahun 1993.

Pria yang dikenal sangat dekat dengan keluarga ini memiliki jam terbang yang tinggi di perusahaan plat merah dan telah menorehkan banyak prestasi di setiap perusahaan di mana dia ditugaskan.

Tercatat ada empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah dia jalani di sepanjang kariernya.

Sebelum dipercaya sebagai Direktur Utama di PT Angkasa Pura I (Persero), pemerintah telah mempercayakan kepadanya posisi pemimpin di beberapa perusahaan BUMN, mulai dari Direktur Pelayanan di PT Garuda Indonesia (Persero), Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha di PT Angkasa Pura II (Persero), hingga Direktur Utama di PT ASDP Ferry Indonesia (Persero).

Profesionalitas bagi Faik adalah prinsip utama dan hal tersebut membuatnya dapat segera memahami dan cepat beradaptasi ketika ditempatkan di perusahaan-perusahaan BUMN yang berbeda bidang bisnisnya, seperti halnya di AP I saat ini.

Menurutnya, AP I sebagai operator 13 Bandara di Tanah Air, menekankan kualitas pelayanan adalah kata kunci di seluruh bandara yang dikelolanya.

Oleh karena itu, peningkatan layanan di seluruh Bandara harus selalu dilakukan.

Dalam kepemimpinannya, Faik membawa visi AP I yang lebih progresif, yaitu “Connecting the World Beyond Airport Operator with Indonesia Experience”.

Visi baru ini terasa lebih going global and network minded, juga lebih mengangkat kultur keindonesiaan sebagai kekuatan layanan operasional di semua Bandara AP I.

Dengan visi baru ini, diharapkan akan mengantarkan AP I dalam mewujudkan semua Bandaranya menjadi ‘Bandara yang Lebih Melayani’.

Faik mempunyai harapan besar untuk Angkasa Pura I, yaitu ingin menjadikan semua bandar udara di Tanah Air sebagai Bandara terbuka dan memiliki akses dengan penerbangan internasional.

“Selama ini penerbangan internasional ke Indonesia terkonsentrasi di Jakarta dan Bali.”

“Kini, untuk 13 bandara yang dikelola AP I, saya ingin membuka akses lebih banyak terhadap penerbangan-penerbangan internasional agar bisa langsung ke daerah tujuan,” tutur Faik ketika bertemu KAGAMA di Jakarta belum lama ini.

Ia berpandangan, hal ini akan mendorong kegiatan turisme di Tanah Air, karena para wisatawan bisa langsung pergi ke berbagai destinasi wisata yang mereka tuju, termasuk ke Yogyakarta.

“Harapan saya, Daerah Istimewa Yogyakarta akan menjadi lebih istimewa berkat Bandara Kulon Progo yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata.”

“Kebutuhan bandara seperti di Kulon Progo ini semestinya sudah dipenuhi lima sampai 10 tahun lalu,” ungkapnya.

“Jadi memang cukup terlambat, tapi tidak mengapa.”

“Keberadaan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo ini diharapkan mampu meningkatkan kegiatan pariwisata dan logistik di Yogyakarta secara lebih efektif,” papar Faik.

Selama ini, menurutnya, Yogyakarta sebagai kota pariwisata, tapi umumnya turis-turis asing yang datang telah lebih dulu berkunjung ke Jakarta atau Bali.

Oleh sebab itu, seluruh penerbangan internasional di Bandara Internasional Adisutjipto akan pindah ke Bandara NYIA di Kulon Progo.

Bandara NYIA akan menjadi bandara terbesar ketiga di Indonesia, setelah Soekarno Hatta di Banten dan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Potensinya luar biasa, karena mempunyai Panjang landasan pacu (runway) 3.250 meter, dan nanti pada awal beroperasinya Bandara NYIA ditargetkan mampu menampung 4,4 juta penumpang penerbangan internasional.

Selama ini turis asing yang datang ke Yogyakarta masih kalah dibanding Bali, karena tak lepas dari terbatasnya kapasitas runway di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta.

Dengan runway lebih panjang dan luas, Bandara NYIA nantinya akan mampu menampung lebih banyak pesawat termasuk yang berbadan besar seperti Boeing 777.

Saat ini, sudah banyak maskapai penerbangan asing yang tertarik membuka rute ke NYIA.

Maskapai dari Arab, Cina, Korea Selatan, Jepang, serta Australia sudah siap melayani rute tersebut.

Kehadiran NYIA akan meningkatkan jumlah turis ke Yogyakarta, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di sektor pariwisata serta akan meningkatkan ekspor logistik dari Yogyakarta dan sekitarnya ke mancanegara.

“Bila sebelumnya ekspor dari Yogya dan sekitarnya mesti lewat Jakarta atau Bali dulu, kini pelaku usaha dapat mengekspor barangnya langsung ke mancanegara.”

“Hal ini dapat memangkas biaya distribusi sehingga harga produk-produk dari Yogyakarta dan sekitarnya lebih bersaing,” pungkas Faik. (Jos)