Mekanisasi Pertanian Bukan Sekadar Mengganti Cara Manual dalam Bertani

28
Alumnus Mekanisasi Pertanian (sekarang Teknik Pertanian dan Biosistem) UGM angkatan 1994 ini berujar, teknologi pertanian yang dibuat sebaiknya memiliki sifat tahan lama, artinya tidak mudah tergerus meskipun sedang masuk di masa krisis. Foto: Ist
Alumnus Mekanisasi Pertanian (sekarang Teknik Pertanian dan Biosistem) UGM angkatan 1994 ini berujar, teknologi pertanian yang dibuat sebaiknya memiliki sifat tahan lama, artinya tidak mudah tergerus meskipun sedang masuk di masa krisis. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Teknologi yang dibuat untuk mewujudkan mekanisasi pertanian harus tepat guna dan berdaya guna.

Penciptaan teknologi pertanian harus sesuai dengan topografi, jenis lahan, dan luas area.

“Karena kebutuhan setiap komoditas berbeda. Jadi, teknologi yang dibuat harus bisa melayani semua komoditas tersebut, serta mampu dirawat dan dioperasikan oleh SDM yang tersedia.”

“Kalau bisa teknologinya sejak awal sudah didesain sederhana agar mudah dioperasikan.”

Demikian menurut alumnus jurusan Mekanisasi Pertanian (sekarang Teknik Pertanian dan Biosistem) UGM angkatan 1994, Wawan Kartika Hadi.

Baca juga: Ukuran Keberhasilan Berbisnis Menurut Pemilik Usaha Kuliner Baceman Ninago

Pria yang bekerja di Departemen Pemasaran, CV. Karya Hidup Sentosa (Quick Traktor) ini membagikan pengalamannya dalam sharing Alumni Pulang Kampung, yang digelar oleh Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM, beberapa waktu lalu secara daring.

Di samping mesin, kata Wawan, kemampuan SDM juga perlu dibenahi.

Misalnya dengan menciptakan petani modern, yakni seseorang yang secara bijak mampu mengolah komoditas dan mendayagunakan teknologi untuk peningkatan produktivitas.

Kemudian yang tak kalah penting juga adalah mekanisasi modern harus mampu meningkatkan skala ekonomi untuk keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Menurut Wawan, jangan sampai mekanisasi pertanian hanya sekadar menggantikan cara manual dalam bertani.

Baca juga: Mimpi Besar Bupati Petrus Kasihiw terhadap 3 Potensi Biota Mangrove di Teluk Bintuni