“Nama asli saya Juminten, Mas. Saya lahir tahun 1973,” ujar Mbak Jajan kepada KAGAMA, (13/03). Sembari mencuci piring kotor di kran air depan Rumah B21, janda dua anak  yang sehari-hari menjual makanan ringan, mie instan, dan nasi bungkus ini melanjutkan ceritanya.

Berdagang ia tempuh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Selepas suaminya meninggal pada 2011, justru semangatnya semakin kokoh.(Foto: Dok. Taufiq)
Berdagang ia tempuh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Selepas suaminya meninggal pada 2011, justru semangatnya semakin kokoh.(Foto: Dok. Taufiq)

“Saya dulu mulai jualan di UGM waktu banyak demo meminta Pak Harto turun. Mungkin tahun 1998. Saya masih ingat waktu itu Masjid Kampus masih berupa kuburan Cina dan banyak sekali polisi di dalam kampus,” kata Mbak Jajan sambil menunjuk Masjid Kampus yang terlihat dari tempatnya mencuci piring.

Sambil sesekali tersenyum kecil karena kurang percaya diri diliput media, ia melanjutkan ceritanya. “Awalnya saya jualan berkeliling, Mas. Di MAN 1 jam 8-9 pagi, agak siang mulai masuk Fakultas Ilmu Budaya,  siang sampai sore di sini (B21—red) tapi cuma jualan sebentar terus langsung pergi”, paparnya.