Manunggaling Rebana Gemakan Tradisi Islam Nusantara

85
Manunggaling Rebana ingin menghidupkan tradisi Islam Indonesia di kampus UGM. Foto: Sirajuddin
Manunggaling Rebana ingin menghidupkan tradisi Islam Indonesia di kampus UGM. Foto: Sirajuddin

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – “Berawal dari rasa kangen kawan-kawan mahasiswa UGM yang ketika di rumah biasanya mendengar lantunan selawat, kok di UGM tidak ada suasana seperti itu,” terang Kukuh ketika menceritakan awal terbentuknya Manunggaling Rebana (MR).

Danang Kukuh Prasetyo, mahasiswa vokasi tahun 2017 merupakan ketua MR pada tahun ini.

Ia bersama teman-teman Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM terus berkeliling dari panggung ke panggung mengumandangkan lantunan musik rebana.

Manunggaling Rebana (MR) berdiri pada 27 Februari 2015, sekaligus sebagai angkatan pertama.

Pembentukan komunitas ini berasal dari latar belakang teman-teman NU yang notabene seorang santri dari sebuah pesantren.

Banyak dari anggota MR merupakan pengurus di beberapa UKM di Gelanggang. Foto: Sirajuddin
Banyak dari anggota MR merupakan pengurus di beberapa UKM di Gelanggang. Foto: Sirajuddin

“Mereka ingin menghidupkan tradisi Islam Indonesia di kampus UGM, dan Grha Sabha Pramana menjadi titik kumpul setiap latihan,” tambah Kukuh kepada KAGAMA, belum lama ini.

Peralatan rebana mereka beli langsung dari daerah Gresik.

“Beli langsung dari Gresik karena ada salah seorang dari perumus MR rumahnya berdekatan dengan produksi alat rebana,” tambahnya.

Teman-teman MR awalnya hanya beranggotan sekitar 6 orang.

Setelah sering melakukan latihan dan kumpul berselawat, lama-kelamaan bertambah hingga terbentuk kepengurusan sampai sekarang ini.