Mandiri Pangan dengan Beternak Ikan ala Pakar Perikanan UGM

103
Guru Besar Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Rustadi, M.Sc, mengatakan, ikan dewasa ini memang sulit diperoleh di perairan umum, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan asupan protein dari ikan. Foto: Humas UGM
Guru Besar Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Rustadi, M.Sc, mengatakan, ikan dewasa ini memang sulit diperoleh di perairan umum, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan asupan protein dari ikan. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Konsumsi ikan di Jogja sebanyak 23-24 kg per kapita per tahun, termasuk rendah. Sedangkan secara nasional hanya mencapai 50 kg per kapita per tahun.

Guru Besar Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Rustadi, M.Sc, mengatakan, ikan dewasa ini memang sulit diperoleh di perairan umum, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan asupan protein dari ikan.

Kurangnya asupan protein dapat menghambat pertumbuhan balita dan menghambat perkembangan janin bagi ibu hamil.

“Saya kira ini menjadi tugas besar juga bagi pemerintah. Masalah stunting di Indonesia membuktikan bahwa pemenuhan gizi seimbang bagi masyarakat masih kurang, terutama protein,” ujar pria kelahiran 1953 ini.

Hal tersebut Rustadi sampaikan dalam diskusi bertajuk Mandiri Pangan Dari Rumah Sendiri, yang digelar oleh Desa App secara daring beberapa waktu lalu.

Baca juga: Ketua KAFEGAMA Ungkap 5 Langkah Penting Atasi Dampak Covid-19 di Dunia Usaha dan Perbankan

Salah satu jalan keluarnya, kata Rustadi, yaitu dengan beternak ikan dari pekarangan sendiri.

Namun, hal ini juga tak mudah dilakukan mengingat ketersediaan air untuk tujuan pengairan minim dan lahan yang sempit, khususnya di kota-kota besar.

Meskipun demikian, Rustadi meyakinkan bahwa potensi membangun budidaya perikanan di lahan pekarangan itu ada.

Menurutnya, masyarakat bisa menggunakan sumber air yang ada, seperti sumur atau air hujan untuk kolam terbatas.

Namun, jangan sekali-kali menggunakan air PAM, karena umumnya air ini sudah tercampur oleh bahan kimia.

Baca juga: Kunci Agar Indonesia Terhindar dari Resesi Ekonomi Menurut Ekonom UGM